Tekape.co

Jendela Informasi Kita

Di Balik Sunyinya Lampu THM Toraja Utara: Ketika Ramadan Datang, Para LC Berjuang Melawan ‘Lapar’

Salah satu Tempat Hiburan Malam (THM) New Chomatzu Kafe yang tutup sementara di jalan Poros Rantepao-Makale, Lembang Rinding Batu, Kecamatan Kesu, Kabupaten Toraja Utara, Rabu (25/02/2026) malam. (Foto: erlin/tekape.co)

MALAM di Poros Rantepao-Makale, kini terasa berbeda. Lampu-lampu kafe yang biasanya menyala hingga dini hari, kini redup selama bulan suci Ramadan. Musik yang dahulu menjadi pengiring tawa pengunjung kini berganti sunyi. Di balik ketenangan itu, ada cerita lain yang jarang terlihat: kegelisahan para pekerja hiburan malam yang kehilangan penghasilan.

Laporan: Erlinuddin, Biro Tekape.co di Toraja

Sejak penutupan sementara Tempat Hiburan Malam (THM) di Kabupaten Toraja Utara pada awal Ramadan, puluhan karyawan kafe dan Ladies Companion (LC) mendadak kehilangan sumber nafkah utama mereka.

Kebijakan yang bertujuan menjaga suasana kondusif selama bulan suci itu ternyata menghadirkan dilema sosial tersendiri bagi sebagian warga kecil yang menggantungkan hidup dari aktivitas malam.

Bagi Mirna, Ramadan tahun ini bukan hanya tentang menahan lapar karena berpuasa, tetapi juga menahan kecemasan memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari.

Perempuan yang telah lama bekerja sebagai pelayan kafe itu mengaku, kini kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya. Selain sebagai singel parent harus menghidupi dua anak, dia juga harus membantu orang tuanya di kampung.

“Sekarang kami hampir tidak bisa biaya makan dan minum sehari-hari, karena tempat kerja tutup. Kami juga punya tanggungan keluarga. Mau minta bantuan ke siapa lagi?” ujarnya lirih, saat ditemui, Selasa (24/02/2026) sore.

Menurut Mirna, kondisi ini berbeda dengan Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, kafe masih diperbolehkan beroperasi terbatas, setelah salat tarawih hingga dini hari, sehingga mereka tetap memiliki pemasukan meski tidak penuh.

Kini, pemasukan benar-benar terhenti.

Ia menegaskan, para pemilik kafe pun mengalami kesulitan yang sama. Selama masa penutupan, sebagian karyawan hanya sempat mendapat bantuan biaya hidup selama satu minggu.

“Bos kami juga tidak ada penghasilan. Bukan tidak mau tanggung jawab, tapi sama-sama tidak ada pemasukan,” katanya.

Cerita serupa datang dari Putri, rekan kerja Mirna yang merantau ke Toraja demi mencari nafkah. Baginya, pekerjaan sebagai pelayan kafe adalah satu-satunya keahlian yang ia miliki untuk bertahan hidup.

Selama penutupan berlangsung, ia mengaku mulai kesulitan memenuhi kebutuhan harian. Bahkan rencana pulang kampung saat Lebaran kini terasa semakin jauh.

“Kami juga butuh makan, butuh biaya hidup, dan ingin pulang lebaran. Tolong pemerintah juga lihat kami,” ucapnya.

Putri mengaku memahami kebijakan pemerintah yang ingin menjaga ketertiban selama Ramadan. Namun ia berharap ada solusi yang tetap memperhatikan nasib pekerja kecil.

“Kami tahu Toraja daerah yang toleransinya tinggi. Kami hanya minta kebijakan supaya kami juga diperhatikan,” katanya.

Di balik stigma pekerjaan malam, para pekerja ini sejatinya adalah perantau yang datang membawa harapan ekonomi. Banyak dari mereka menjadi tulang punggung keluarga di kampung halaman.

Ketika aktivitas hiburan berhenti, roda ekonomi kecil yang selama ini berjalan di baliknya ikut terhenti, dari pelayan, pekerja musik, hingga staf operasional lainnya.

Sementara itu, hingga Kamis (26/02/2026) siang, Bupati Toraja Utara Frederik Victor Palimbong, yang dikonfirmasi Tekape.co, belum memberikan tanggapan atas keluhan para pekerja kafe yang terdampak kebijakan tersebut.

Sebelumnya, pemerintah daerah menegaskan bahwa penutupan THM bersifat sementara selama Ramadan. Kebijakan itu merujuk pada Surat Edaran Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 100.3.4.1/2053/B.KESRA tentang upaya menjaga situasi kondusif selama bulan suci.

Seluruh aktivitas hiburan malam, khususnya yang berkaitan dengan penjualan minuman beralkohol dan penyediaan pemandu lagu, dihentikan sementara.

Karaoke, diskotek, spa, dan usaha sejenis termasuk dalam aturan tersebut, sementara tempat biliar masih diizinkan beroperasi dengan pembatasan tanpa alkohol.

Pemerintah berharap langkah ini dapat menjaga ketertiban umum dan menghormati suasana Ramadan.

Namun di sisi lain, bagi Mirna dan Putri, malam yang sunyi bukan sekadar perubahan suasana kota, melainkan perjuangan bertahan hidup yang nyata.

Di kamar kos sederhana mereka, perhitungan bukan lagi soal jumlah tamu yang datang, tetapi berapa hari lagi uang yang tersisa bisa cukup untuk makan.

Ramadan kali ini, bagi mereka, bukan hanya tentang menunggu waktu berbuka. Tetapi juga menunggu harapan, agar ada jalan keluar sebelum kebutuhan hidup benar-benar tak lagi bisa ditunda. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini