oleh

Pilkades Serentak Dikhawatirkan Jadi Momok Perpecahan, Masyarakat Diharap Lebih Dewasa

BELOPA, TEKAPE.co – Pesta demokrasi adalah moment serta momok yang susah dipisahkan. Sebab pesta yang pada dasarnya sebuah moment kebahagian, namun bisa saja dari pesta demokrasi ini melahirkan momok perpecahan di antara masyarakat desa yang selama ini kental persaudaraan.

Untuk Kabupaten Luwu, tak lama lagi di desa yang penuh tali persaudaran ini akan melakukan sebuah pesta demokrasi, berupa pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak yang akan dihelat Agustus 2019 mendatang.

Namun ada kekhawatiran dari pertarungan pilkades itu. Khawatir membuat masyarakat terpecah belah. Sehingga diharapkan masyarakat lebih dewasa dalam menghadapi pesta demokrasi.

Ini harusnya menjadi perhatian semua pihak, agar masyarakat desa tetap menjunjung tinggi persaudaraan.

Kekhawatiran munculnya momok perpecahan di pilkades ini disampaikan Muh Rivaldi A Tadda, Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemeritahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unismuh Makassar, yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jendral Kelautan dan Perikanan di PP IPMIL Luwu.

Menurutnya, desa adalah kekuatan sejati. Negara harus berpihak pada para petani, entah bagaimana caranya desa masa depan kita.

“Keyakikan ini datang begitu saja, sebab saya tak mau celaka di lumbung kita, menabung paceklik kita, tak bingung masa panen masa berpesta. Itulah harapan kita semua ini adalah panggalan lagu desa,” tandasnya.

Kabupaten Luwu, sementara ini sementara proses untuk menggelar pilkades serentak.

Kepala desa, meskipun bukan pejabat negara, tetaplah memiliki peran strategis dan menjadi primadona di masyarakat desa.

Makanya tidak jarang calon kepala desa rela melakukan berbagai upaya untuk memenangkan pertempuran di kotak pemilihan.

“Namun sering pula kita mendengar terjadinya kecurangan yang tidak menunjukkan sebagai pemimpin rakyat, yang notabenenya berada dalam negara yang menganut sistem demokrasi,” tandasnya.

Rivaldi, yang dirinya salah satu pemuda desa, mengharapkan agar pilkades berjalan sesuai regulasi, aturan yang berlaku di UU RI NO 6 TAHUN 2014 dan murni pemilihan figur calon pemimpin desa yang melibatkan seluruh masyarakat desa.

“Selain itu, saya berharap sebagai pemuda desa yang kebetulan bertempat tinggal di Desa belopa Kecamatan Belopa Kabupaten Luwu, yang sementara proses melakukan pemilihan bakal calon kepala desa, sebagai lahan pertarungan strategi politik yang ber-etika, agar mampu menjadi tauladan di masyarakatnya,” harapnya.

Menurutnya, persoalan beda pilihan itu adalah hak bagi semua warga desa, tidak boleh ada interpensi dari pihak manapun itu dan jangan mencedarai demokrasi. (*)

Komentar

Berita Terkait