Tekape.co

Jendela Informasi Kita

OPINI: Pembantaian Muslim Gaza Terus Terjadi, Mengapa Pemimpin Negeri-Negeri Muslim Hanya ‘Diam’ Saja?

Erny Madis, S. Si

Oleh: Erny Madis, S. Si

Enam bulan sudah, Gaza memanas. Sampai hari ini korban di pihak kaum muslimin terus berjatuhan meski perlawanan dari mujahidin pun tak pernah surut. Yang menyedihkan adalah karena sampai saat ini, tidak ada solusi yang bisa menyelesaikan masalah penjajahan tentara Zionis di tanah suci Baitul Maqdis. Bahkan kita umat muslim yang jauh dari Gaza, kian hari makin terbiasa dengan berita tersebut. Tak berdaya berbuat sesuatu apa pun untuk menghentikan pembantaian yang dilakukan entitas Zionis. 

Kondisi ini semakin menyayat hati karena sampai di akhir bulan Ramadhan ini, umat muslim di Gaza masih terus dihadapkan dengan pembantaian dan kelaparan. Jelas, apa yang mereka alami bertolak belakang dengan keadaan kaum muslim di negeri-negeri lain yang ceria dan gembira karena sebentar lagi hari raya Idul Fitri. 

Derita Umat Muslim di Gaza

Pasukan pendudukan zionis (IDF) terus melancarkan serangan militer mematikan di Jalur Gaza sebagai balasan atas serbuan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, yang menurut Tel Aviv menewaskan hampir 1.200 orang.

Serangan militer zionis telah menewaskan sedikitnya 30.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 70.000 lainnya. Rentetan serangan militer zionis itu disertai dengan kehancuran massal dan kekurangan berbagai kebutuhan pokok.

Penjajahan pemerintahan zionis telah menyebabkan 85 persen penduduk Gaza mengungsi di tengah kekurangan makanan, air bersih, dan obat-obatan, sementara 60 persen infrastruktur di wilayah kantong tersebut rusak atau hancur, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa. _(Antara News, 29/2/2024)_

Lebih dari 1,4 juta warga Palestina mengungsi akibat serangan militer zionis di Gaza berkumpul di Rafah, mencari perlindungan dari pembantaian. Rencana pasukan militer zionis untuk melakukan serangan terhadap kota tersebut telah menimbulkan peringatan internasional, dan banyak negara mendesak agar operasi tersebut ditahan atau dibatalkan.

Diperkirakan ada 800 ribu warga terancam mati akibat kelaparan dan tidak punya akses air bersih Sampai tulisan ini dibuat sudah ada 30 anak-anak meninggal akibat bencana kelaparan. Sebagian warga terpaksa makan rumput dan minum air kotor demi bertahan hidup. 

Militer zionis juga tidak segan menembaki warga yang tengah mengerubuti truk-truk bantuan makanan. Warga Gaza juga tidak memiliki rumah sakit. Seluruhnya telah dihancurkan militer zionis. Banyak warga luka yang dirawat seadanya di tempat-tempat pengungsian. Minim obat-obatan dan peralatan medis. Jumlah dokter dan tenaga medis pun semakin berkurang karena banyak yang menjadi korban serangan militer zionis. 

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Sabtu menyampaikan keprihatinan atas dugaan pengeboman oleh militer zionis terhadap tenda-tenda yang menaungi warga sipil di Rafah, Jalur Gaza selatan yang menyebabkan korban jiwa. “Laporan menyatakan bahwa tenda-tenda yang menaungi warga di Rafah dibom – dilaporkan menewaskan 11 orang dan melukai 50 lainnya, termasuk anak-anak – sungguh keterlaluan dan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata,” kata Tedros Adhanom Ghebreyesus pada platform X. “Diantara mereka yang tewas adalah petugas kesehatan. Petugas kesehatan dan warga sipil #BukanTarget, dan harus dilindungi kapanpun,” kata dia, mendesak pemerintahan zionis untuk melakukan gencatan senjata. _(Antara News, 3/3/2024)_ 

Serangan zionis Yahudi, yang semakin kejam dan tak berperikemanusiaan, seolah membuktikan bahwa ini merupakan tindakan genosida yang ditargetkan kepada warga muslim Gaza. 

Berbagai Lembaga PBB mengecam perilaku zionis Yahudi. 

Pemerintahan zionis di Mahkamah Internasional (ICJ) digugat melakukan genosida. Pengadilan tersebut pada Januari mengeluarkan keputusan sementara, yaitu memerintahkan militer zionis untuk menghentikan tindakan genosida serta agar menjalankan tindakan untuk menjamin bantuan kemanusiaan diterima oleh para warga sipil di Gaza. _(Republika, 28/2/2024)_ 

Namun sayangnya, keputusan ICJ ini pun tidak berdampak banyak karena militer zionis seolah tidak peduli terhadap keputusan tersebut dan terus melakukan serangan militernya di wilayah Gaza.

Di sisi lain, Amerika Serikat pada Sabtu (2/3/2024) mengatakan pihaknya telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza lewat udara untuk pertama kalinya dengan menerjunkan lebih dari 30.000 makanan menggunakan pesawat militer. Bantuan lewat udara tersebut dilakukan dua hari setelah pasukan militer zionis menembaki kerumunan warga Palestina yang menunggu bantuan kemanusiaan di bundaran Al Nabulsi di Jalan Al Rashid, sebuah jalan pantai utama di sebelah barat Kota Gaza di Gaza utara, yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai lebih dari 760 orang. _(Antara News, 3/3/2024_) 

Bantuan yang dilakukan AS ini menuai berbagai macam reaksi dari masyarakat dunia. Banyak yang mengecam tindakan AS karena dianggap hanya sebagai sebuah upaya “cuci tangan” setelah berbagai tekanan publik internasional terhadap AS yang menjadi penyokong utama dalam serangan militer zionis di wilayah Gaza. Bahkan banyak  yang menduga bantuan ini tak menutup kemungkinan juga sebagai sarana untuk memberikan bantuan senjata untuk zionis dengan jalur udara. 

Kondisi Gaza yang memprihatinkan ini semakin diperparah dengan pemimpin negeri-negeri muslim sekitar Palestina, yang seolah hanya diam melihat kondisi muslim yang dibantai oleh militer zionis, dimana kejahatan yang dilakukan zionis sudah di ambang batas nalar manusia untuk memahami. Sebagaimana yang dilakukan negara tetangga terdekat Palestina yaitu Mesir, alih-alih membantu, mereka justru mempersulit muslim Palestina, di antaranya dengan membangun tembok lebih tinggi dan berlapis-lapis. Untuk mengirimkan bantuan militer semisal pasukan dan senjata pun, negeri-negeri muslim pun tidak mampu. Padahal bantuan yang paling dibutuhkan oleh muslim Gaza saat ini adalah bantuan militer untuk menghentikan penjajahan yang dilakukan oleh zionis. 

Penyebab “Diamnya” Pemimpin Muslim

Penjajahan yang berlarut-larut di Palestina hingga saat ini bahkan sulitnya negeri-negeri muslim untuk bergerak menolong umat muslim di Palestina merupakan harga mahal yang harus dibayar oleh umat muslim, salah satunya dikarenakan ide nasionalisme yang membelenggu bahkan sudah mengakar di negeri-negeri muslim. 

Ide nasionalisme dalam sistem nation state (negara bangsa) telah berhasil memecah-belah kaum muslim, memperlemah bahkan menjadikannya sebagai legitimasi untuk tidak membela dan melindungi kaum muslimin di belahan dunia lainnya, termasuk di Palestina. 

Padahal Allah subhanallah wa ta’ala telah berfirman :

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu adalah bersaudara” _(QS. Al Hujurat:10)_ 

Di ayat yang lain Allah subhanallah wa ta’ala berfirman :

وَاِنِ اسْتَنْصَرُوْكُمْ فِى الدِّيْنِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ 

“(Tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, kamu wajib memberikan pertolongan..” _(QS. Al Anfal:72)_

Ayat di atas menjelaskan wajib bagi kaum muslim untuk menolong saudara-saudara mereka, meski berada di luar wilayahnya. Bahkan lanjutan dari ayat tersebut menjelaskan ancaman Allah jika mereka berdiam diri, hal itu akan mengundang fitnah dan musibah yang akan mengintai kaum muslim. Serta terjadinya kerusakan yang akan merajalela di muka bumi. 

Namun atas nama nasionalisme mereka mengabaikan kedua ayat tersebut meski pada hakikatnya mereka dipersaudarakan dengan ikatan akidah namun persaudaraan itu kini telah hilang yang mengakibatkan tidak ada upaya mengirimkan bantuan riil kepada saudara muslim di negara lain yang sedang dalam bahaya. 

Dengan kata lain, nasionalisme telah menjadi penyakit  yang membuat negeri muslim memandang penderitaan  umat muslim di negeri lain sebagai masalah asing yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Tidak ada kemauan politik untuk bertindak kecuali untuk kepentingan nasional mereka. 

Dari sini bisa disimpulkan bahwa hukum menolong kaum muslim dan membebaskan Palestina dari pendudukan zionis menjadi fardhu ‘ain bagi kaum muslim, khususnya penguasa negeri-negeri muslim di sekitar Palestina. Diamnya penguasa dan tentara memberikan pertolongan kepada mereka tidak hanya berdosa besar, tetapi juga diancam Allah dengan fitnah, musibah dan kerusakan yang akan merajalela. 

Khilafah Perisai Umat

Di dalam kitab Nizamul Islam, karangan Sheikh Taqiyuddin An-Nabhani dijelaskan ikatan kebangsaan (nasionalisme) adalah ikatan yang tumbuh ketika manusia hidup bersama dalam suatu wilayah tertentu dan tidak beranjak dari tempat tersebut. 

Naluri mempertahankan diri sangat berperan dan mendorong mereka mempertahankan negerinya, tempat di mana mereka hidup dan menggantungkan diri. Ikatan ini tergolong ikatan paling lemah dan rendah nilainya karena bersifat emosional. Ikatan ini muncul ketika ada ancaman pihak asing yang hendak menyerang atau menaklukkan suatu negeri, tapi bila suasananya aman dari serangan musuh, sirnalah kekuatan ini. 

Oleh karena itu, ikatan ini tidak akan mampu mengikat antara manusia satu dengan yang lainnya. Untuk menuju kebangkitan dan kemajuan.

Umat Islam harus menyadari bahwa ide nasionalisme adalah ide yang berasal dari kafir Barat penjajah untuk menghancurkan kesatuan umat Islam di bawah institusi Khilafah, sebelum keruntuhannya pada tahun 1924. 

Sebagaimana diketahui dulu umat muslim bersatu dalam suatu negara besar dan kuat yakni Daulah Khilafah Islam. 

Namun, sejak Barat berhasil meruntuhkan Khilafah pada tahun 1924, wilayahnya kemudian dipecah belah. Sejak itu hingga kini dunia Islam terpisah menjadi lebih dari 50 negara. Jelas ini adalah kondisi yang berbahaya bagi umat. Saat ini Amerika dan negara-negara Barat mengusung ideologi kapitalisme, terus menyebar luaskan pemikiran beracun berupa nasionalisme untuk mempertahankan eksistensi ideologi mereka yang sedang merajai dunia.

Apa yang terjadi di Palestina ini menyadarkan kita bahwa umat ini harus bersatu. Umat ini harus memiliki pelindung dan pemimpin yang satu. Berjuang dalam satu komando. Sekat-sekat imajiner negara buatan penjajah, berupa paham nasionalisme, telah menjadikan umat ini lemah dan tercerai-berai. Mengharapkan pertolongan PBB dan negara-negara kafir Barat adalah ilusi dan mustahil. 

Khilafah adalah kepemimpinan global kaum muslim untuk menerapkan syariah Islam dan mengemban dakwah ke seluruh dunia. Khilafah akan menyatukan seluruh umat Islam dengan landasan aqidah Islam. Khilafah akan memobilisasi tentara-tentara mengalahkan penjajah zionis dan negara-negara kafir. Khilafah akan menghentikan kolonialisasi, dominasi dan hegemoni Barat dengan tata dunia saat ini. 

Karena itu umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin kaum muslim sedunia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda :

“Imam (khalifah) adalah perisai, di belakang dia kaum Muslim berperang dan berlindung.“ _( HR. Al Bukhari Muslim)_

Khalifahlah yang akan menyerukan sekaligus memimpin langsung pasukan muslim seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum Muslim di mana saja. 

Karena itu masalah Palestina hari ini insya Allah akan tuntas dengan sempurna manakala kita mengambil dua hal: _Pertama,_ melangsungkan jihad yakni mengirimkan tentara muslim dan menghilangkan penguasa antek yang khianat. _Kedua,_ menegakkan kembali Khilafah yang akan efektif memimpin jihad global melawan zionis penjajah dan negara-negara Barat lainnya. 

Wallahu a’alam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini