oleh

OPINI: Palestina Butuh Aksi Nyata

Oleh: Yusriana

Serangan-serangan brutal dari Zionis Yahudi terhadap negeri Palestina masih saja terus terjadi hingga hari ini. Sudah lebih dari 18 ribu orang warga sipil tewas yang didominasi anak-anak dan perempuan akibat dari serangan tersebut. Warga sipil telah berulang kali diperintahkan untuk evakuasi. Mereka terus berlarian, berpindah dari utara ke selatan, hingga kembali ke ujung selatan lagi hanya demi menyelamatkan nyawa mereka di dalam penjara terbuka karna terperangkap di antara Mesir, Israel, dan Laut Mediterania yang sudah sejak dahulu di bawah blokade Israel.

“Israel dengan batuan Mesir telah mengubah Gaza menjadi penjara terbuka, “kata direktur Israel dan Palestina di Human Rights Watch(HRW) ,Omar Shakir, Juni 2022.

Rafah adalah merupakan satu-satunya perbatasan Gaza dengan negara lain selain Israel. Namun, kebijakan ketat Mesir di wilayah perbatasan Rafah yang kerap sewenang-wenang terhadap pelancong Gaza. Bahkan rakyat Palestina yang ingin melewati Rafah kerap diberlakukan buruk oleh otoritas Mesir. Kebijakan yang sepihak inilah yang semakin memperkuat blokade Israel.

Israel juga melarang pemerintah Palestina mengoperasikan bandara ataupun pelabuhan di Gaza. Barang-barang juga tidak diijinkan keluar masuk Gaza. Truk-truk bantuan pun hanya menumpuk di perbatasan. Sehingga hal ini semakin memperburuk keadaan Palestina.(CNN Indonesia, 12-12-2022)

Kondisi pun semakin bertambah buruk sejak balasan Israel atas penyerangan Hamas 7 Oktober 2023. Hamas pun dianggap sebagai kelompok teroris oleh Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Kepala badan PBB untuk pengungsi Palestina, Philippe Lazzarini pada saat mengunjungi jalur Gaza mengatakan ” kematian besar-besaran, kehancuran, pengunsian, kelaparan, kehilangan, dan kesedihan dalam 100 hari terakhir menodai kemanusiaan kita bersama.”

“Seluruh generasi anak-anak di Gaza mengalami trauma, penyakit menyebar, dan waktu terus berjalan cepat menuju kelaparan, ” berikut ia memperingatkan.

Mahkama Internasional yang berbasis di Den Haag mendengar argumen dalam kasus yang diluncurkan oleh Afrika Selatan terkait genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina, dan menuduh Israel melanggar Konvensi Genosida PBB. Hal ini pun disambut baik oleh warga Gaza.
Sehingga menuntut penghentian kampanye militer, yang ditekankan oleh Israel kepada pengadilan sebagai pembelaan diri dan tidak ditujukan kepada warga Palestina.

Namun Netanyahu terus bersikeras bahwa tidak ada pengadilan atau musuh militer yang dapat menghentikan Israel untuk mencapai tujuannya dalam menghancurkan Hamas.Israel pun bersumpah untuk menghancurkan penguasa Islamis Gaza dan terus melancarkan pengeboman sampai saat ini.Hingga menewaskan puluhan ribu orang yang sebagian besarnya perempuan dan anak-anak.(TRIBUNPRIANGAN.COM, 14-01-2024)

Kemana Para Pemimpin Islam ?

Para pemimpin dunia lebih banyak memilih untuk bungkam tak bersuara menyaksikan pembantaian keji atas rakyat Palestina pada umumnya, dan terkhusus umat Islam. Para penguasa Muslim hanya mementingkan negerinya masing-masing. Mereka tersekat-sekat wilayah dalam wujud nasionalisme. Sejak tahun 1948 awal pencaplokan wilayah Palestina oleh Zionis Yahudi, sejak itu pula kaum Muslim di Palestina nyaris berjuang sendiri. Tak ada pembelaan dari penguasa negara-negara Arab yang berada sekelilingnya. Meskipun sudah sangat nyata darah kaum Muslim Palestina ditumpahkan sejak 75 tahun yang lalu oleh Zionis Yahudi.

Sebagian besar penguasa Muslim dan Arab yang ada adalah antek-antek Barat, khususnya AS. Mereka cenderung membiarkan dan bahkan mendukung kebijakan dari tuan mereka walaupun dalam rangka membunuhi kaum Muslim di berbagai negeri Islam, khususnya di Palestina. Mereka hanya sebatas mengecam dan mengutuk tak berani berbuat lebih, apalagi untuk mengirim tentara sekedar wacana pun tak ada.

Para pemimpin Muslim pun masih membuka hubungan bilateral dengan zioni Yahudi.Para penguasa Yordania, Qatar, Mesir, dan Arab Zaudi bahkan menolak usulan embargo minyak ke negeri Yahudi dalam konferensi tingkat tinggi(KTT) luar biasa antara Liga Arab dan Organisasi Kerja sama Islam(OKI) di Riyad, Arab Saudi, pada Sabtu(11/11/2023). Padahal minyak dari negara merekalah bahan bakar kendaraan-kendaraan tempur Zionis dipakai untuk menggempur Gaza.

Tak hanya itu saja, mereka bahkan menjadikan negara-negara mereka sebagai jalur perlintasan militer Amerika Serikat.
AS telah lama membangun sejumlah pangkalan militer di beberapa negeri Muslim seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, UAE, dan Turki. Dengan adanya pangkalan militer itu, akan memudahkan mobilisasi militer AS ke Timur Tengah.

Para pemimpin Arab dan negeri-negeri Islam Dunia sudah telah menghianati Allah dan Rasul-Nya.Mereka bersekutu dengan musuh-musuh Allah.
Padahal Allah telah berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًاۗ وَدُّوْا مَا عَنِتُّمْۚ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاۤءُ مِنْ اَفْوَاهِهِمْۖ وَمَا تُخْفِيْ صُدُوْرُهُمْ اَكْبَرُ ۗ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْاٰيٰتِ اِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kalian menjadikan teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian. Mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kalian. Mereka mengharapkan kehancuran kalian. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami), jika saja kalian mengerti.(Ali Imran:118)

Tak cukup dengan Bantuan Kemanusiaan

Di saat negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman terang-terangan memberikan dukungan serta bantuan keuangan dan militer kepada Zionis Yahudi.

Tak ada tindakan serupa yang dilakukan oleh para pemimpin Arab serta pemimpin-pemimpin negeri Islam lainnya untuk menghentikan penjajahan ini. Mereka sudah merasa puas dengan cukup memberi kecaman serta mengirim bantuan keuangan, logistik dan obat-obatan seadanya. Seakan-akan mereka diobati dan diberi makan supaya mati dalam keadaan kenyang.

Para pemimpin negeri-negeri Islam dunia hanya mengecam dan mengemis bantuan pada PBB. Mereka menyerahkan nasib Palestina kepada PBB dengan mengajukan solusi-solusi pragmatis seperti gencatan senjata dan solusi dua negara (two-state solusion).

Gencatan senjata telah terjadi selama empat hari pada 24 sampai 28 November, diperpanjang selama dua hari berikutnya hingga gencatan senjata berakhir pada 30 November 2023. Tapi tak juga merubah keadaan. Setelahnya, Zionis Yahudi kembali melakukan pembantaian dan penjajahan hingga kini.
Begitupun dengan solusi dua negara, ini sama saja mengakui eksistensi penjajah dan terus membiarkan entitas Yahudi untuk tetap berada di daerah rampasannya. Palestina dipaksa untuk mengakui keberadaan penjajah yang telah merampok dan membunuhi mereka.

Begitulah pengecutnya para pemimpin dunia Islam yang tidak pernah punya nyali menghadapi Zionis.
Padahal mereka punya kekuatan militer yang besar dan kuat yang bisa dipakai menyelamatkan Palestina dan menghancurkan negara Zionis.

Tentara Muslim Wajib Jihad

Jumlah negeri-negeri muslim di dunia jauh lebih banyak dibandingkan dengan entitas Yahudi. Tapi kaum muslim dipecah belah oleh sekat Nasionalisme sehingga membuat mereka tidak satu tubuh lagi.
Padahal sejatinya kaum meslim adalah bersaudara atas dasar kesamaan aqidah yang persaudaraan mereka melampaui batas-batas negara. Kaum muslim tidak boleh saling membiarkan saudaranya terzalimi.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Muslim itu saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak layak menzalimi dan menyerahkan saudaranya kepada musuh…”(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Serangan atas kaum Muslim di Palestina pada hakikatnya adalah serangan terhadap seluruh kaum Muslim di seluruh dunia. Maka dari itu kewajiban kaum Muslim di seluruh dunia untuk membela kaum muslim di Palestina.

Aksi nyata untuk membebaskan Palestina adalah seluruh pemimpin di negeri-negeri Islam wajib bersatu untuk mengirim tentara dan senjata untuk jihad fisabilillah ke Palestina. Namun, persatuan ini hanya bisa terwujud dengan adanya Daulah Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah yang akan mampu menghilangkan sekat-sekat diantara kaum Muslim di seluruh dunia dan juga sebagai perisai.
Rasulullah saw bersabda, “Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum Muslim berperang di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya .”(HR Muslim)

Dengan adanya Daulah Khilafah yang menyatukan negeri-negeri Muslin seluruh dunia, Persoalan Palestina akan tuntas hingga akarnya.Dengan Jihad dan Khilafah, maka penjajahan dan penindasan atas kaum Muslim akan musnah di muka bumi ini. Islam rahmatan lilalamin akan terwujud.

Wallahualam bissawab.



RajaBackLink.com

Komentar