oleh

OPINI: Antara Langit dan Palung Mariana

Oleh: Bang Irwan

Saya tersenyum membaca beberapa kiriman link berita dari kawan saya dua-tiga hari ini. Tentang pujian setinggi langit kepada seorang penjabat Gubernur yang dikabarkan sedang dievaluasi. Sebuah media online membandingkannya dengan Gubernur defenitif sebelumnya. Katanya, Gubernur sebelumnya tidak punya karya untuk masyarakat. Tak lama, datang pula pujian dari seorang akademisi yang konon ahli politik, katanya sang penjabat ini hebat sekali dalam kepemimpinan dan komunikasi. Ada pula yang memuji-muji karena berhasil mengendalikan inflasi lewat inspeksi mendadak (sidak) pasar-pasar. Apa betul?

Saya tersenyum karena merasa level kelucuan orang-orang ini sudah melampaui batas. Bagaimana bisa seorang Gubernur andalan yang telah membangun 500 kilometer jalan (2019-2023) dikatakan tidak punya karya? Biar mudah dibayangkan, 500 Km itu hampir sama jaraknya perjalanan dari Makassar ke Wotu, Luwu Timur, yang menurut google harus ditempuh 11 jam 30 menit menggunakan mobil. Sementara si Penjabat sejak dilantik 2023, konon belum memperbaiki satu milimeter pun jalan provinsi. Jadi, ngapain saja?

Setiap tahun Gubernur andalan mengalokasikan rata-rata 600 Milyar rupiah untuk penanganan jalan-jalan provinsi, dan total 1 triliun rupiah untuk semua pekerjaan infrastruktur. Setiap tahun! Sementara si Penjabat di tahun 2024 ini konon hanya mengalokasikan anggaran untuk penanganan sepanjang 10 kilometer jalan, itu pun belum dikerjakan sama sekali. Parahnya lagi di mana-mana si Penjabat sering koar-koar soal kewajiban ruas jalan Pemprov sepanjang 1.014 kilometer. Maksud?

Gubernur andalan diberikan dua pengehargaan bergengsi oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yaitu Tanda Kehormatan Satyalencana Wira Karya dan penghargaan Adhikarya Nararya atas keberhasilan dalam mendukung program Pembangunan Pertanian. Itu karena beliau benar-benar membangun pertanian secara holistik. Mulai dari benih unggulan disiapkan sendiri dan dibagikan gratis, bendung dan embung direvitalisasi besar-besaran, kelompok tani dibantu dengan alat-alat dan mesin pertanian gratis, hingga jalan-jalan tani dibangun di mana-mana. Hasilnya?

Tahun 2022 produksi padi dan beras provinsi ini TERTINGGI NASIONAL dengan stok 2,08 juta ton, mampu mensuplai kebutuhan beras provinsi lain se-Indonesia dan menjadi penyedia 25 persen stok beras BULOG. Benih padi unggulan yang disalurkan pada tahun itu sebanyak 2.500 ton untuk 100.000 hektar lahan dengan jumlah penerima bantuan 120.649 keluarga petani. Ada kerja, ada hasil, ada penghargaan.

Sementara si Penjabat setelah dilantik tiba-tiba ingin menganggarkan bibit pisang cavendish senilai 1 triliun rupiah. Tidak ada kajian, tidak ada feasibility study, tidak ada dalam RPJM, bahkan masyarakat belum tahu bagaimana menggarapnya, mengolahnya, atau memasarkannya. Lebih mengenaskan lagi karena anggarannya konon dimbil dari anggaran jalan dan jembatan yang dipangkas. Bahkan nilainya lebih besar dari anggaran untuk sarana jalan dan jembatan yang dibutuhkan masyarakat. Tapi seorang kawan saya yang pengusaha sempat berseloroh, “Saya sih tidak heran bos. Margin keuntungan pengadaan bibit itu bisa sampai 50% lho.” Wadaw…

Terakhir soal kepemimpinan. Pakar kepemimpinan ternama dunia John Maxwell dalam tulisannya yang berjudul “Leading Through Frightening Times” menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang menghadapi masa-masa sulit harus hadir memberikann perasaan tenang kepada rakyatnya. “Paint a brighter picture”, kata Maxwell. Itulah cara untuk membuat orang percaya bahwa mereka akan baik-baik saja dan bahkan lebih baik dari sebelumnya. Dan nasihat seperti ini adalah pendapat sebagian besar pakar kepemimpinan ketika pemimpin menghadapi masa-masa sulit.

Saat Gubernur andalan melanjutkan estafet kepemimpinan dari Gubernur sebelumnya, beliau mewarisi masalah yang sangat besar. Covid-19 sedang mewabah dan pemerintah memiliki utang yang harus dibayar kurang lebih 1,6 triliun. Sementara kondisi keuangan pemerintah saat itu sangat tidak sehat, dan ekonomi sedang jatuh. Tapi bukannya mengeluh dan merajuk di mana-mana, Gubernur andalan justru fokus mencari solusi dan menyelesaikannya. Itu adalah masa-masa sulit yang tak terbayangkan, tapi akhirnya bisa dilalui dengan gemilang. Dengan izin Allah…

Kontras betul dengan si Penjabat. Beberapa hari setelah dilantik, dia mulai pidato di mana-mana, “Kita sudah bangkrut!”, “Kapal akan tenggelam!”, dan berbagi potret kesuraman ditularkan ke mana-mana lewat media. Sampai-sampai seorang staf khusus Menteri keuangan Republik Indonesia harus memberikan klarifikasi betapa konyolnya pernyataan-pernyataan si Penjabat. Bahkan di sebuah forum resmi, seorang petinggi TNI yang mengerti betul makna kepemimpinan, memberikan respon keras atas blunder si penjabat. Jadi, masih mau bilang doi hebat?

Jika ingin membandingkan sesuatu, usahakan aple to aple, jangan antara langit dan palung mariana (konon tempat paling dalam di muka bumi). Bertanyalah kepada masyarakat pesisir Takalar yang dulu rumah-rumahnya teseret ombak dan kini hidup tenang tanpa kecemasan. Bertanyalah pada warga pulau Sembilan (Sinjai) yang telah menikmati air bersih. Bertanyalah kepada Guru P3K yang telah diberikan kepastian kerja. Bertanya ke masyarakat dan jangan menduga-duga.

Maha benar Allah SWT yang berfirman, “Sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 45).

Wallahu ‘Alam.



RajaBackLink.com

Komentar