oleh

Wartawan Senior Mansyur Tja Meninggal, PWI Luwu Raya Berduka

PALOPO, TEKAPE.co – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Luwu Raya dan Toraja berduka. Wartawan senior, Arman Mansyur Tja menghembuskan nafas terakhirnya, Selasa 11 Juli 2017, sore, di RSUD Sawerigading Palopo.

Saat ini, jenazah almarhum Mansyur Tja tengah disemayamkan di rumah duka, di Perumnas, Kecamatan Bara, Kota Palopo.

“Ayahandaku, guru besarku lebih dicintai yang maha kuasa. Kami sekeluarga merelakanmu sang jendral wartawan (Arman Masnsyur Tja),” tulis Jaman Teguh, putra Mansyur Tja, di beranda akun Facebook miliknya, Selasa 11 Juli, sekira pukul 18.00 WITA.

Mendengar kabar duka tersebut, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Luwu Raya dan Toraja, Aryanto Tanding SH, mengaku sangat berduka atas kepergian Manyur Tja, yang saat ini masih menjabat sebagai Dewan Pembina PWI Luwu Raya dan Toraja.

“Saya kira, semua insan pers merasa kehilangan atas kepergian Mansyur Tja. Beliau bukan hanya sosok yang patut dikagumi, tapi beliau juga patut jadi guru dalam dunia kewartawanan,” ujar Ary, sapaan akrab Aryanto.

Ia menyebutkan, hingga akhir hayatnya, Mansyur Tja telah mendedikasikan hidupnya di dunia kewartawanan. “Di PWI, beliau adalah sosok yang patut diteladani. PWI ada di Luwu Raya berkat perjuangan beliau (Mansyur Tja, red) bersama alarmahun Yahya Djabal Tira,” katanya.

Ary menuturkan, wartawan yang lahir di era sekarang ini, patut meniru loyalitas Mansyur Tja dalam mengabdikan diri di dunia kewartawanan.

“Beliau tidak kenal hujan dan panas, beliau tetap bergerak mencari informasi untuk disebarluaskan ke masyarakat,” tandasnya.

Sekadar diketahui, Arman Masnsyur Tja sudah bergelut di dunia surat kabar sejak orde lama, tahun 1966, di Makassar. Ia kemudian pindah ke wilayah Luwu Raya. Di Luwu Raya, ia dijuluki wartawan 3 zaman.

Sebagai wartawan di daerah, Ia juga berperan mengawal kebijakan pemerintahan orde baru yang bekuasa dari tahun 1968 hingga 1998.

Hingga kini, era reformasi, ia tetap setia di profesinya sebagai wartawan dan masih aktif di lapangan.
Mansyur Tja bukan hanya setia di profesinya sebagai wartawan, tapi ia juga setia di surat kabar yang ditempatinya sejak dulu, namanya Surat Kabar Umum Tegas. Dulu surat kabar harian sore. Namun perlahan menjadi mingguan, hingga kini menjadi surat kabar bulanan. (del)

Berita Terkait