oleh

OPINI: OTG dan Positif Mulai ‘Naik Daun’ di Daerah Pelosok

Oleh : Ummu Abdurrahman
(Tim Media Perempuan Hijrah Sorowako)

JUMLAH yang sangat fantastis per tanggal 6 Mei, jumlah OTG di Kabupaten Luwu Timur (Lutim) mencapai 86 orang
per tanggal 8 meri, naik menjadi 130 orang. Per 10 Mei mencapai 168 orang.

Dan per tanggal 13 Mei 2020, positif covid 19 berjumlah 42 Orang (Covid19.luwutimurkab.go.id).

Dalam dua hari saja, ada penambahan puluhan orang.
Hal yang pertama dirasakan saat melihat nilai fantastis ini adalah rasa sedih.

Virus covid 19 betul-betul sudah masuk ke wilayah ujung dari propinsi Sulawesi Selatan.

Karena bimbangnya pemerintah pusat dalam menetapkan status lockdown saat kasus pertama muncul.
Pada 27 Maret 2020, Kementerian Kesehatan RI mengumumkan kategori kelompok baru terkait Covid-19 di Indonesia.

Kategori kelompok baru itu adalah orang tanpa gejala (OTG).

Untuk istilah OTG, pengertiannya tertulis dalam dokumen resmi Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 Kementerian Kesehatan RI edisi keempat.

OTG adalah seseorang yang tidak bergejala tapi berisiko telah tertular virus corona dari pasien Covid-19.

Selain itu, OTG memiliki kontak erat dengan kasus positif Covid-19.

Kategori OTG juga memiliki riwayat kontak berat, baik kontak fisik atau berada dalam ruangan dengan radius satu meter dari pasien Covid-19.
(Kompas.com)

OTG ini sudah bisa menularkan virus ke orang lain karena tidak ada gejala apapun.

Namun, dari semua itu semakin banyak yang dijaring atau istilah yang digunakan adalah skrining awal, maka akan semakin banyak yang akan cepat mendapatkan tindakan.

Skrining dilakukan dengan menggunakan rapid test. Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu IgM dan IgG, yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan virus corona.

Semakin banyak yang melakukan test maka semakin besar peluang covid 19 akan berakhir, karena masyarakat yang sudah menjalani rapid test dan hasilnya reaktif, akan dilanjutkan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR/Swab test untuk mengkonfirmasi adanya Covid-19) serta menegakkan diagnosis.

Yang mendapatkan hasil PCR positif, maka akan diisolasi hingga hasil tes berikutnya menjadi negatif.

Setelah itu, dilakukan tracing. Orang-orang yang kontak erat dengan pasien positif akan melakukan pemeriksaan pula. Untuk segera memutus rantai penyebarannya.

Pihak swasta sebagai sosok penyelamat di daerah Lutim, sebagai penyedia utama alat tes untuk pemeriksaan covid 19 ini.

Bukannya pemerintah yang harusnya menjadi tuan rumah, yang empunya kekayaan.

Dinas Kesehatan Luwu Timur, per tanggal 5 April 2020, baru mendapatkan 40 buah alat rapid test dari Pemprov Sulawesi Selatan (Sulsel).

Plt Dinas Kesehatan Luwu Timur, Rosmini Pandin, yang dilansir TribunLutim.com, mengatakan alat tersebut sudah dibagikan ke RS Inco PT Vale dan RSUD I La Galigo. Masing-masing 20 buah.

“Alat rapid testnya sudah dipakai untuk pasien PDP,” kata Rosmini, Minggu (5/4/2020).

“Hari ini Insya Allah 500 unit Rapid test dari PT Vale Indonesia, dimana sebelumnya juga telah menyumbangkan 320 unit Rapid Test. Pemerintah Provinsi 40 unit, jadi saat ini, ketersediaan alat rapit test sudah cukup memadai, termasuk dengan ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) yang akan digunakan oleh tenaga kesehatan,” jelas Husler.

Selain itu, Husler mengaku tengah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak seperti DPRD Luwu Timur, dan pihak swasta terkait kemungkinan Pemerintah memiliki alat Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk digunakan di daerah ini.

“Alhamdulillah, sudah ada respon dari beberapa pihak yang mendukung dan siap untuk membantu soal pendanaan untuk pengadaan alat ini, dan komunikasi ini sementra masih terus dilakukan,” ujar Husler. (30/4/2020)

Presiden Direktur dan CEO PT Vale, Nico Kanter mengatakan, rapid test massal ini merupakan upaya tambahan yang dilakukan perusahaan untuk memetakan potensi penyebaran dan upaya pencegahan penularan Covid-19 di dalam dan di sekitar area operasi.

Menurutnya, hal ini juga menjadi bagian dari Protokol Kesiapsiagaan Pengelolaan Penyakit Kejadian Luar Biasa (Pandemic Preparedness Plan) di Vale Indonesia.

Pelaksanaan rapid test massal ini direncanakan berlangsung dalam waktu yang cepat dan agresif, sehingga nantinya dapat menjaring seluruh karyawan Vale Indonesia yang berjumlah 3.100 orang ditambah pekerja kontraktor yang berjumlah sekitar 7.000 orang. (Kontan)

Luar biasa gebrakan yang dilakukan pihak swasta. Yang sepertinya tdk akan terealisasi dengan cepat jika Pihaknya tidak turun tangan.

Sebenarnya tidak mengapa mendapatkan bantuan sebagaimana yang terjadi pada masa khalifah umar, saat terjadi wabah.

Hanya saja, kekayaan yang dimiliki swasta, seharusnya menjadi kepemilikan negara, sehingga yang menjadi pendukung utama adalah negara, bukan swasta.

Semoga Allah melindungi kita, dan kita segera kembali kepada aturanNya. Yaitu Islam. (*)

Komentar

Berita Terkait