OPINI: Covid-19 dan Pemodelan dalam Bidang Statistika

Opini2.1K,000

Pemerintah melaporkan kasus baru Corona (COVID-19) hari ini terdata ada penambahan 4.425 kasus dari 34 provinsi di Indonesia. Provinsi yang paling banyak melaporkan kasus selama 24 jam terakhir adalah DKI Jakarta Data perkembangan penyebaran COVID-19 dipublikasikan Humas BNPB, Senin (8/8/2022). Data kasus COVID-19 diperbarui setiap hari per pukul 12.00 WIB. Dengan pertambahan 4.425 kasus Corona, total positif Corona di Indonesia hingga hari ini sebanyak 6.249.403.

Di Indonesia, wabah Covid-19 ini secara resmi ditetapkan sebagai pandemi global oleh World Health Organization pada tanggal 11 Maret 2020. Menurut perkembangannya corona virus terus mengalami peningkatan hingga 13 kali lipat dengan jumlah kasus yang telah dilaporkan diluar China yaitu lebih dari 2,3 juta orang di 185 negara diseluruh dunia. Kasus Covid-19 pertama kali dikonfirmasi di Indonesia pada tanggal 02 Maret 2020 sejumlah dua kasus. Pada bulan Mei 2020, angka kematian juga masih terus terjadi walaupun diimbangi dengan jumlah kesembuhan pasien. Secara global kasus Covid-19 sebanyak 4.170.424 kasus dengan 287.399 kasus kematian (WHO Report, 2020).

Banyak yang bertanya, mengapa kasus Corona ini belum bisa diatasi? Apa peran Scientist dalam hal ini? Jika dilihat dari sudut pemodelan matematika maupun statitika, sebenarnya ada dua hal penting terkait dengan pemodelan Covid-19 ini, yang pertama apa itu data dan kedua apa itu informasi.
Dalam hal ini data merupakan suatu fakta-fakta ataupun rincian peristiwa yang sifatnya masih mentah dan belum diolah. Sedangkan informasi merupakan kumpulan data yang sudah diolah sedemikian rupa, sehingga nantinya dapat memberikan informasi dan juga manfaat bagi kalangan tertentu ataupun bagi semua orang. Dalam prosesnya, data yang sudah dihimpun dan juga sudah dimiliki, kemudian diolah sedemikian rupa, sehingga data tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang berguna dan juga informatif.

Kalau kita berbicara tentang berpikir statitika, tentunya kita tidak lepas dari bagaimana cara merubah suatu data menjadi sebuah informasi. Disanalah nantinya fungsi dari analisis data yang berisi model yang dikembangkan oleh peneliti di dunia agar bisa merubah suatu data menjadi sebuah informasi yang harapannya bisa menjadi knowledge dan dasar pengambilan kebijakan.
Namun demikian, ada hal penting yang harus kita perhatikan terlebih dahulu, yaitu bahan dasar kita. Bahan dasar yang dimaksud dalam hal ini adalah data. Sebelum data itu dimodelkan sebagai suatu sarana memperoleh informasi, maka data itu haruslah valid dan reliabel. Ini adalah suatu keharusan, karena akan mempengaruhi hasil atau informasi yang akan terbentuk.

Pada saat kita berbicara analisis data, maka setidaknya ada tiga tujuan besar didalamnya. Yang pertama adalah deskriptif, yaitu menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang pernah terjadi. Bisa berupa hubungan antar variabel atau lainnya.

Jika ditarik lebih ke atas lagi, setelah kita bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi dan apa yang sebelumnya terjadi, maka selanjutnya adalah bagaimana memprediksi. Harapannya adalah dengan data yang kita peroleh saat ini dan sebelumnya, kita bisa memprediksi yang akan terjadi.

Jauh naik lagi, setelah kita dapat melakukan prediksi dengan baik, maka kita diharapkan bisa untuk melakukan intervensi, kebijakan yang sifatnya perubahan kearah yang lebih baik.
Sudah banyak penelitian matematika ataupun statistika yang mencoba meneliti Covid-19 ini. Diantaranya adalah dengan menggunakan Kurva Pertumbuhan yakni Richard curve, exponential curve, Weibull curve dan lainnya. Kemudian predictive modeling meliputi Model statistik, mechine learning dan lainnya. Yang terakhir adalah Compartmental models contohnya SIR, SIRU, dan pengembangannya.

Salah satu Model statitstika yang dapat digunakan dalam pemodelan Covid-19 adalah analysis survival. Analisis survival merupakan salah satu prosedur dalam statistika untuk menganalisis data di mana variabel yang diperhatikan adalah waktu sampai terjadinya suatu kejadian (event) dan variabel-variabel lain yang diduga mempengaruhi waktu survival.

Waktu suatu objek telah bertahan selama periode pengamatan atau sampai terjadinya suatu event yang diinginkan disebut survival time atau failure time. Kejadian (event) dapat dianggap sebagai suatu kegagalan (failure), karena event yang diperhatikan biasanya berupa kematian pasien, kambuhnya penyakit setelah perawatan, kerusakan mesin, dan lain sebagainya. Kasus Covid-19 di kota Palopo sendiri telah kami coba modelkan dengan menggunakan analisis survival ini. Penelitian tersebut menggunakan beberapa variabel diantaranya jenis kelamin, usia, dan penyakit penyerta. Penelitian tersebut didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui program Riset Keilmuan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa di Kota Palopo faktor jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap lama kesembuhan pasien, artinya bahwa laki-laki maupun perempuan tetap memiliki peluang untuk sembuh maupun meninggal yang sama.

Sedangkan untuk faktor usia, pasien dengan usia di atas 50 tahun lebih rentan untuk meninggal dibanding usia di bawah 50 tahun. Faktor selanjutnya adalah penyakit penyerta. Untuk faktor penyakit penyerta, secara umum tidak terlalu berpengaruh terhadap risiko kematian Covid-19 ini. Namun yang signifikan berpengaruh adalah jika si pasien di atas 50 tahun dan juga memiliki riawayat penyakit bawaan.

Namun demikian saat ini, Presiden Jokowi mengumumkan sejumlah pelonggaran aturan terkait Covid-19. Kebijakan pelonggaran ini dikeluarkan karena pandemi di Indonesia sudah terkendali. Salah satu aturan yang dilonggarkan yaitu mengenai penggunaan masker.

Meskipun demikian, kita tidak boleh lengah terhdap Covid-19 ini, “Jika dilihat pada grafik kasus positif Covid-19 mingguan, terjadi kenaikan 571 atau 31 persen, yaitu dari 1.814 menjadi 2.385 kasus mingguan. Selain itu, juga terjadi peningkatan kasus aktif Covid-19 dalam empat hari terakhir sebesar 328 kasus atau 10 persen dari kasus harian pada 2 Juni 2022, yakni 3.105 menjadi 3.433 kasus. Hal ini dianggap mengkhawatirkan, karena faktanya sampai sekarang, penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 masih terus terjadi. Dengan demikian kita harus tetap waspada.

Dr. Rahmat Hidayat, M.Si.

Komentar