oleh

Mysticisme dan Laylatul Qadr

Oleh : Abbas Langaji
(Dosen IAIN Palopo)

KETIKA masih kanak-kanak, salah satu angan-angan saya adalah berjumpa malam lailatul qadr.

Dalam pengertian, suatu malam yang di dalamnya terjadi suatu peristiwa spiritual yang luar biasa, ditandai dengan beragam tanda-tanda keajaiban fisik.

Setidaknya demikian gambaran laylatul qadar sebagaimana dikemukakan muballig-muballig pada saat itu.

Laylatul qadr digambarkan sebagai keajaiban dengan tanda-tanda fisik, antara lain langit cerah tak berawan, terang benderang, udara terasa sejuk tapi tak membuat gigil hangat, tapi tak membuat gerah, tak ada angin, pepohonan tenang seakan bertasbih, suasana terasa sangat tenang, perasaan sangat nyaman, dan beragam gambaran suasana mistic-spiritual lainnya.

Apakah malam laylatul qadr itu terjadi setiap tahun di bulan Ramadhan? Sebahagian besar ulama mengatakan iya, (argumennya) didasarkan pada belasan hadis dari Nabi saw.

Bila laylatul qadr terjadi setiap tahun di buLan Ramadhan, kapan? Malam ke berapa?

Ulama berbeda pendapat; ada yang menyebut malam ke-17 (dikaitkan dengan malam pertama diturunkannya al-Qur’an untuk pertama kali sesuai pendapat yang paling shahih); ulama yang laen berdasarkan petunjuk hadis2 Nabi saw. menyebut bhwa laylatul qadr terjadi malam2 gasal pada sepertiga terakhir, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29,

Ulama yang lain menyebutkan bahwa rahasia Allah, boleh jadi di antara malam pertama hingga malam terakhir Ramadhan; agar tercipta kesungguhan bagi umat Islam memanfaatkan momen Ramadhan dengan beribadah sebaik2nya.

Bagi sebagian sufi, memfokuskan diri pada malam2 tertentu sekedar mengejar keistimewaan laylatur qadr itu tidak terlalu penting karena bagaimanapun lailatul qadar hanya bagian dari makhluk.

Beribadahlah sebaik2ya, bila Tuhan memandang anda layak menerimanya, maka akan diberikanNya lebih baik dari yang diharapkan dan dibayangkan.

Kenapa di dalam hadis disebutkan bahwa laylatul qadar terjadi pada malam-malam sepertiga akhir, karena untuk mengalami pengalaman ruhaniah berupa pencerahan spiritual langsung dari Tuhan, diperlukan latihan spiritual panjang.

Seseorang yang telah menjalani ibadah puasa selama 20-an hari dengan iman wa ihtisab, dianggap sudah cukup untuk menumbuhkan kesadaran spiritual tentang hakikat dirinya, yaitu kesadaran yang tinggi bahwa penghambaannya kepada Tuhan, bukan karena mengharap balasan surgaNya, atau menjauhkan diri dari siksa nerakaNya, melainkan sebagai bukti cintanya kepada Tuhan.

Penjelasan sufistik tentang fenomena laylatul qadr ini lebih bisa diterima dari pada penjelasan yang normatif tanpa harus membayangkan akan terjadi atau mengalami peristiwa fisik-jasmaniah yang luar biasa.

Bagi para sufi, momen laylatul qadr tidak perlu dipahami dalam konteks fisik-biologis. Laylatul qadr seharusnya dipahami dalam gambaran mental-spritual.

Bila peristiwa laylatul qadr proses pemerolehan pencerahan dipahami hanya dalam bentuk keajaiban fisik-biologis, maka hal itu bisa dihubung-bandingkan dengan peristiwa pemerolehan pencerahan di luar Islam;

Pada salah satu sistem kepercayaan di luar Islam, dikenal proses pemerolehan pencerahan setelah sekian lama melakukan beragam ritual penyucian diri lahir dan batin; lalu terjadi peristiwa yang luar biasa atas dirinya yang disaksikan dan diketahui banyak orang;

Berkah laylatu qadar sesungguhnya hanya bersifat ruhaniah (spiritual), dan sangat personal; kalau toh disaksikan oleh orang lain, bukan peristiwa ajaibnya yang disaksikan, melainkan perubahan perilaku yang bersangkutan sebagai implementasi dari kebersihan batinnya.

Syekh Abdul Karim al-Jily (W. 826 H.) mengatakan, “Substansi lailatul qadar pada seorang hamba adalah kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki.”

Imam Qusyairi (W. 465 H) menjelaskan bahwa lailatul qadr adalah laylatul mubarakah (malam keberkahan); dialah malam dimana hati seorang hamba hadir menyaksikan dan menikmati ‘pancaran’ cahaya Tuhannya.”

Bila seorang muslim mendapatkan berkah laylatur qadar, maka dirinya benar-benar tercerahkan secara spiritual, sehingga pada kehidupan nyata, di dalam dirinya, tidak ada lagi prasangka negatif, karena jiwanya dipenuhi dengan prasangka positif.

Selamat berburu malam laylatul qadar, malam keberkahan. Wassalam. (*)

Komentar

Berita Terkait