oleh

Mengajar di Pedalaman dengan Gaji Rp 250 Ribu per Bulan

MAROS, TEKAPE.co – Meski menerima honor yang kecil, Abdul Khalik (28) tetap mengajar di Madrasah Ibtidaiyah DDI Hidayatullah yang terletak di Kampung Bara-baraya, Desa Tanete Bulu, Kecamatan Tompobulu, Maros, Sulawesi Selatan.

Ia menjadi guru di pelosok Maros itu sejak tahun 2014 lalu. Ia tidak perna lelah mengajar puluhan murid, padahal ia sendiri tinggal di kota Maros, tepatnya di Kelurahan Pettuadae, Kecamatan Turikale. Jarak antara tempat mengajar dengan rumahnya bahkan lebih dari 30 kilometer.

Setiap kali akan mengajar, anak kedua dari  dari tujuh orang bersaudara ini berangkat dari rumahnya menggunakan sepeda motor.

Ia tidak pernah goyah meski dirinya hanya menerima honor sebesar Rp 250 ribu per bulan. Gaji itu ia diterima setiap tiga bulan sekali dari pihak yayasan.

“Saya mengajar itu mulai tahun 2014 sampai sekarang. Kalau dari rumah saya itu jaraknya lebih 30 kilo lah. Karena tidak bisa naik motor langsung, ya motor saya simpan di kampung sebelah, baru saya jalan kaki. Jaraknya itu sekitar 6 kilometer,” kata Khalik, Senin 25 November 2019.

Untuk menambah pendapatan, Ia pun kerap membawa madu asli dari kampung tempat ia mengajar untuk ia jual di rumahnya. Uang itulah yang ia gunakan untuk biaya perawatan motornya yang kerap mengalami kerusakan karena harus menempuh medan yang cukup berat.

Yah biasa kalau saya pulang dari sana, saya bawa madu untuk saya jual. Lumayan buat tambah-tambahan. Karena kalau menunggu honor sih itu jelas tidak cukuplah. Ini motor saya kadang rusak juga, yah mungkin karena jarak sama medan yang ditempuh,” sebutnya.

Karena jarak sekolah yang jauh, Pria yang berijazah S1 di STAI Yapnas Jeneponto itu, harus menetap selama beberapa pekan di sekolah, tanpa ada sinyal telekomunikasi dan aliran listrik dari PLN. Ia pun biasanya kembali ke rumah, jika perbekalannya sudah habis. 

“Saya start dari rumah itu biasanya pagi, sampai di sana itu malam. Makanya, kami tidak bisa pulang pergi mengajar. Ya kadang dua minggu saya berada di sana, seminggu lagi di rumah. Tidak ada sinyal sama sekali. Listriknya itu dari turbin saja. Hanya bisa satu mata lampu,” lanjutnya. 

Putra dari pasangan Mustawang dan Mutmainnah itu, awalnya mengaku sangat miris melihat kondisi anak-anak di kampung itu. Mereka dulunya harus belajar di bawah kolong rumah dengan menggunakan perlengkapan seadanya. Selain itu, banyak pula murid yang ia ajar memilih berhenti bersekolah untuk membantu orang tuanya meski belum bisa baca tulis. (*)

Komentar