oleh

Media Menjamur, Ini Kekhawatiran Wartawan Senior di Lutra

LUTRA, TEKAPE.co — Era teknologi informasi dan keterbukaan informasi saat ini, membuat tumbuh subur media massa. Mulai dari media elektronik, media cetak berupa koran, tabloid, majalah, hingga media online.

Ada sisi negatif dan positif dari menjamurnya media-media ini. Namun ada kekhawatiran tersendiri dari menjamurnya media di era sekarang. Salah satunya pers terkadang jadi kebablasan.

Salah seorang wartawan senior di Luwu Utara, Abdul Azis SP, menuturkan, menjamurnya media ini pada dasarnya menjadi fenomena bagus. Sebab pers dianggap sebagai pilar keempat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Namun menurutnya, tantangan terberat bagi insan pers, adalah pes harus obyektif. Sebab saat ini, pers banyak menghadapi hambatan dari pihak yang berusaha membatasi fungsi pers.

“Keberadaan pers atau wartawan atau jurnalis, begitu impresif telah menyebabkan pers bebas menyampaikan berita berdasarkan nilai kebenaran yang mereka yakini,” ujar Mantan wartawan Koran Sindo dan Upeks ini, saat ditemui di warkop Daeng Azis Masamba.

Ia menuturkan, menjamurnya media, membuat para pemilik perusahan media, tidak lagi harus patuh pada politik imperatif yang memberatkan, seperti diterapkan para korporatis pemegang kekuasaan.

“Pemilik perusahaan media, dituntut mencari cara rasional untuk memenuhi kepentingan financial. Namun mereka terkadang tidak lagi melihat sisi intelektual yang mereka rekrut, seperti kualitas wartawannya,” ujarnya.

Komisioner KPU Luwu Utara ini juga menyebutkan, pers saat ini banyak dimanfaatkan oknum tertentu, hanya mereka pakai alat atau senjata saja untuk kepentingannya semata.

Padahal, salah satu syarat utama bagi pers untuk menjalankan fungsinya, harus dapat mempertahankan kepercayaan serta respek dari pembacanya.

“Wartawan mengembangkan perannya sebagai saluran informasi terpercaya, pemberi analisis obyektif serta pendukung perbaikan,” tandasnya.

Kendati diakuinya, pers, juga tumbuh sebagai sebuah kesatuan bisnis. Ada keprihatinan bahwa pers akan mengkompromikan prinsip bermedia, demi menjaga kepentingan tertentu atau mempertahankan perusahaan dengan menjual idialisme.

Kepentingan ini berpengaruh di pemilik media. Memanipulasikan objektivitas serta ketidakberpihakan demi kepentingan tertentu.

Praktis, fungsi kontrol pers saat ini kurang berjalan. Bahkan cenderung fragmatis. Idealisme wartawan sudah terbeli dengan kepentingan.

“Namun, dia tidak menyalahkan sepenuhnya individu wartawan. Sebab saat ini, perusahaan media menuntut bergeser dari fungsi kontrol ke bisnisnya,” tandas Azis.

Selain media yang tumbuh bagaikan jamur, juga Lembaga Kewartawanan tumbuh subur. Sehingga sulit dilakukan kontrol terhadap Wartawan yang tidak bekerja secara profesional. (jusman)

Berita Terkait