oleh

Datu Bau Iwan Ikut Dukung Langkah Perbaikan Tatanan Adat di Matano

PALOPO, TEKAPE.co – Langkah upaya perbaikan tatanan adat di Matano oleh tiga pilar adat di Kedatuan Luwu, terus mendapat support dari para pemangku adat.

Setelah Datu Luwu ke-40, YM H Andi Maradang Mackulau Opu To Bau SH, menyampaikan support dan dukungan, kali ini datang dari Datu Luwu ke-39, YM Bau Iwan Andi Alamsyah.

Dukungan Datu Bau Iwan Andi Alamsyah itu disampaikan Wija Tomanurung, Andi Baso Ilyas Opu Lanre, Selasa 21 Juli 2020.

BACA JUGA:
Diminta Anak Suku, 3 Pilar Kedatuan Luwu Turun Tangan Perbaiki Tatanan Adat di Matano

“Kami telah menyampaikan upaya tiga pilar Kedatuan Luwu, dalam memperbaiki tatanan adat di wilayah adat Matano. Mendengar upaya itu, Datu Bau Iwan Alamsyah menyampaikan sangat setuju, dengan apa yang dilakukan pilar adat Kedatuan Luwu,” ujar Wija Tomanurung, Andi Baso Ilyas Opu Lanre.

Opu Lanre mengatakan, langkah perbaikan tatanan adat di wilayah adat Matano oleh adat Kedatuan Luwu, dengan membekukan SK H Umar Ranggo sebagai Mokole Rahampu’u Matano, didukung penuh Datu Bau Iwan.

“Klaim Umar Ranggo sebagai Kerajaan Matano, tanpa mengakui Kedatuan Luwu, itu sudah merusak tatanan adat di Kedatuan Luwu,” tandasnya.

BACA JUGA:
Pancai: Datu Luwu Support Upaya Perbaikan Tatanan Adat di Matano

Opu Lanre menyampaikan, apa yang dilakukan itu, untuk mengembalikan tatanan adat ke yang semestinya. Sebab di wilayah adat Matano, telah jauh bergeser dari tatanan adat di Kedatuan Luwu.

Untuk diketahui, tatanan adat yang bergeser itu, telah dibentuk Mokole Nuha, padahal dalam sejarah Kedatuan Luwu, tidak pernah dikenal Mokole Nuha, yang ada hanya Kemokolean Rahampu’u Matano.

Sementara Kemokolean Rahampu’u Matano, yang menjabat Mokole, H Umar Ranggo, kini sudah tidak mengakui Kedatuan Luwu, dan mendeklarasikan diri sebagai kerajaan yang berdiri sendiri.

Atas kerancuan tatanan adat di Matano ini, maka tiga pilar Kedatuan Luwu, Macoa Bawalipu, Pancai Pao sebagai pemegang payung simbol tertinggi di adat Kedatuan Luwu, dan Makole Baebunta, bertindak atas nama adat Kedatuan Luwu, segera membekukan SK H Umar Ranggo sebagai Mokole Matano dan H Baso AM sebagai Mokole Nuha. Ini dilakukan agar kembali ke tatanan adat yang semestinya. (*)

Komentar

Berita Terkait