oleh

Seruan People Power Dinilai Ciderai Proses Demokrasi

PALOPO, TEKAPE.co – Maraknya seruan people power oleh beberapa elit nasional dianggap tidak mewakili seluruh rakyat Indonesia. Hal ini justru dikwatirkan semakin mempertajam konflik pasca pemilu 2019.

Hal ini ikut ditanggapi salah seorang aktivis Perdamaian Dunia Lintas Agama asal Luwu Raya, Haeril Al Fajri, Jumat 17 Mei 2019.

Menurutnya, tokoh-tokoh bangsa dan elit-elit politik nasional seharusnya tampil menenangkan masyarakat pasca begitu memanasnya suhu pilpres dan pileg 2019 April lalu.

Haeril mengungkapkan, seruan People Power justru menciptakan kekisruhan baru, karena hal ini dianggap beririsan dengan muatan politik salah satu pasangan calon Presiden.

“Seruan People Power yang disampaikan oleh tokoh-tokoh pendukung salah satu pasangan calon presiden akan memperkisruh suasana menjelang penetapan pemenang Pilpres dan Pileg secara resmi oleh KPU 22 Mei nanti,” ujarnya.

Haeril juga menambahkan alasan yang mendasari seruan people power karena adanya kecurangn pemilu, dianggap tidak tepat. Sebab proses demokrasi Indonesia sudah menyiapkan wadah untuk itu.

“Saya pikir jika ada kecurangan pemilu, baiknya dilaporkan ke Bawaslu. Jika sudah menetapan dianggap tidak memuaskan bisa diajukan gugatan ke MK, negara kita sudah mengatur koridornya,” tutur Haeril Al Fajri yang juga Pendiri Tana Luwu International Peace Maker.

Haeril melanjutkan, People Power yang diserukan bukan representase masyarakat Indonesia secara umum karena hasil survei menunjukkan diatas 70% masyarakat puas dengan kinerja pemerintah.

“Survei CSIS menunjukkan 72,9% masyarakat puas dengan kinerja pemerintahan jadi siapa yang mau melakukan people power. Tentu yang kita harapkan pasca pemilu ini adalah rekonsiliasi bangsa sebagaimana yang diserukan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU,” ungkapnya.

Ia berpesan agar semua elemen bangsa termasuk yang di daerah untuk tidak terprovokasi dan kembali merajut persatuan dan persaudaraan sesama anak bangsa.

“Ayo kita di moment bulan Ramadan ini, jalin silaturrahim beda pilihan di pilpres itu biasa, kita negara demokrasi, sekarang kita rajut kembali persaudaraan untuk Indonesia yang damai,” tutupnya. (rindu)

Komentar

Berita Terkait