oleh

Rupiah Melemah, Menko Darmin: Jangan Samakan Dengan 1998

NASIONAL, TEKAPE.co – Nilai tukar rupiah nyaris menembus Rp14.900 per dolar Amerika Serikat (AS) saat ini, rupiah berada di kisaran Rp14.897 per dolar AS. Posisi ini melemah 82 poin atau 0,55 persen dari posisi sore kemarin di Rp14.815 per dolar AS.

Merespon hal itu, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution, meminta masyarakat tak membandingkan kondisi pelemahan rupiah yang terjadi saat ini dengan krisis moneter pada 1998 silam.

Seperti dilansir CNN INDONESIA, Darmin menjelaskan besaran pelemahan rupiah pada 1998 jauh berbeda dengan saat ini. Dia menekankan kondisi yang terjadi saat itu jauh berbeda dengan saat ini.

Menurutnya pada 1998, rupiah terdepresiasi 400 persen dari Rp2.800 per dolar AS menjadi Rp14 ribu per dolar AS. Sementara pada sepanjang tahun ini, rupiah melemah sekitar 9 persen.

Dia juga menyebut kondisi makro ekonomi pada 1998 berkali lipat lebih parah dibanding saat ini, dengan mengambil contoh inflasi yang sempat menembus 77 persen kala itu.

Sedangkan saat ini, inflasi secara tahun kalender masih mencatat 2,3 persen. Bahkan, Agustus kemarin Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,05 persen.

“Saya heran itu ada yang membandingkan bahwa rupiah sudah tembus angka terendah 1998 dan 1999. Saya tekankan bahwa persoalan tahun 1998 itu lebih parah dibanding saat ini, tolong membacanya dan membandingkannya ini yang fair,” tegasnya. Selasa 4 September 2018.

Dia juga tak mau menyebut bahwa pelemahan rupiah yang terjadi saat ini merupakan buah dari kesalahan kebijakan pemerintah.

Namun demikian, Dia menyebutkan bahwa kondisi eksternal yang terjadi saat ini memang tengah kuat hingga mempengaruhi rupiah.

Mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini mengatakan, salah satu sentimen yang kuat berasal dari Argentina. Krisis ekonomi yang terjadi di negara itu menular ke negara lainnya dan menimbulkan sentimen negatif pada pasar keuangan.

Sekadar informasi, pelaku pasar mulai panik setelah pemerintah Argentina mengumumkan akan menarik bantuan likuiditas sebesar US$50 miliar untuk anggaran 2019.

Meski demikian, pemerintah pun menilai bahwa depresiasi yang terjadi saat ini sudah tidak masuk akal.

“Mesti ada sesuatu yang perlu kami cari, kami harus cari tahu dasar (depresiasi) ini apa,” terangnya.

Data Bank Indonesia per akhir kuartal II kemarin menunjukkan defisit transaksi berjalan mencapai US$8 miliar atau setara 3 persen dari Produk Domestik bruto (PDB). Ini merupakan defisit terdalam sejak kuartal II 2014 sebesar 4,3 persen dari PDB.

“Yang kami kerjakan ini sektor riil. Kami bicara pariwisata, batu bara, ekspor industri. Kita ngomong berbagai sektor,” ungkapnya.

Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp14.840 per dolar AS. (*)

Komentar

Berita Terkait