oleh

OPINI: Pesta Demokrasi Sebagai Sarana Pertarungan Manusia Beradab

Oleh: Ricky Gazali

* Sekretaris Lembaga Bimbingan Belajar Merah Putih ILS Palopo (Mahasiswa Program Pasca Sarjana UNM asal Kota Palopo)

JUMLAH banyaknya manusia bukanlah hal yang harus ditakutkan, takutlah ketika jumlah banyaknya manusia tersebut disuguhkan kebodohan dan kebohongan sehingga semua manusia tersebut dilanda kebodohan.

Jika yang terjadi adalah hal sebaliknya, lalu apa yang mesti ditakutkan? Di benak ini hanya terlintas hal tersebut, penyebabnya adalah fenomena saat ini yang terjadi di wilayah tempat penulis lahir dan banyak menghabiskan waktunya.

Meskipun penulis hanya mengamati fenomena yang sedang hangat dibincangkan tersebut dari berita-berita yang ada di media massa online dan hampir di setiap sudut kota, maka penulis memilih membincangkan hal tersebut melalui tulisan ini dan sangat tidak pantas rasanya ketika ide atau gagasan yang ada pada diri ini tidak dibagikan kepada para pembaca, agar kita semua mempunyai tambahan bahan pertimbangan untuk menentukan masa depan keluarga, para sahabat, para kerabat, teman-teman dan daerah yang sama-sama kita cintai.

Dengan dasar kecintaan terhadap hal yang penulis sebutkan sebelumnya, maka izinkanlah penulis membagikan beberapa hal kepada masyarakat kota Palopo.

Sebentar lagi pesta demokrasi akan dilaksanakan serempak di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Para kontestan juga terlihat menyiapkan berbagai cara untuk menjaring simpatisan.

Itu semua adalah hal yang tidak salah jika kita melihat beberapa contoh dari Negara-negara yang menganut sistem demokrasi, selama itu dianggap tidak melanggar atauran main yang telah ditetapkan.

Dari sudut pandang penulis menyatakan bahwa pesta demokrasi bukanlah sarana yang di sana terdapat persaingan antar “beberapa pedagang yang terlilit banyak utang dan serakah” yang menawarkan barang sejenis tetapi berbeda harga dan membuat para pembeli memilah barang dagangan yang sejenis.

Para pedagang tersebut akan melakukan berbagai cara untuk menawarkan barang-barang sejenis, sekalipun mereka menampakkan perbedaan–perbedaannya, mengunggulkan barang dagangan masing-masing, menjelek–jelekkan saingan satu sama yang lainnya dan berbagai cara picik lainnya, yah tetap saja itu adalah barang sejenis yang dijajakan oleh para pedagang yang sama-sama terlilit utang dan serakah.

Hasilnya, pembeli berhadapan dengan pilihan yang sejenis, kemudian, ketika membeli barang tersebut menjadi suatu keharusan bagi mereka, ini telah menjadi hal yang sangat mudah diterka bahwa pembeli akan membeli hal yang ekonomis bagi kehidupan mereka. Setelah salah satu dari mereka berhasil menjebak para pembeli, maka dia telah punya alat untuk melunasi utang beserta bunganya dan memanfaatkan alat yang dia miliki untuk melancarkan keserakahannya.

Penulis berpandangan bahwa pesta demokrasi adalah sarana persaingan antar manusia beradab yang menawarkan adab kepada individu-individu menuju masyarakat beradab. Manusia beradab adalah manusia yang memiliki nilai–nilai spiritual, intelektual, etika dan sosial yang baik dan benar. Manusia yang memiliki nilai–nilai tersebut tidak terbesit sedikit pun keinginan untuk membodohi lingkungan sekitarnya tapi lebih cenderung menekankan pengembangan individu-individu menuju masyarakat beradab.

Cara-cara kuno yang tidak mendidik seharusnya sudah kita tinggalkan dan jangan kita biarkan berkembang. Itu akan sangat baik jika kita sebagai individu-individu yang beradab menyatakan bahwa tujuan pesta demokrasi adalah melahirkan individu-individu yang baik (beradab), pada tulisan ini, disebut individu-individu karena masyarakat terdiri dari individu-individu dan tidak semua lapisan masyarakat mau mendengarkan ide atau gagasan yang kita tawarkan, disebabkan cara-cara kuno yang dilakukan oleh para pendahulu yang tidak mendidik.

Oleh karena itu, melahirkan individu-individu yang baik dan memerangi kebodohan pada diri sendiri dan orang lain akan melahirkan masyarakat yang baik pula. Meskipun dalam bermasyarakat terdiri dari individu-individu, namun semuanya tidak akan berjalan dengan cara semestinya untuk mewujudkan masyarakat beradab tanpa adanya kerjasama yang baik dari para individu-individu tersebut. Oleh karena itu, peran pemimpin yang beradab, pastinya mampu, cakap, pandai, sanggup (kapabel) dan bertanggung jawab, yang mempunyai keterkaitan erat (interconnected) dengan seluruh lapisan masyarakat untuk memimpin para individu-individu agar mampu bekerjasama dengan baik sehingga terwujudlah masyarakat beradab.

Hal tersebut seharusnya bukanlah hal yang sangat sulit untuk pemimpin kita nantinya kerjakan, ketika sebelumnya telah melakukan proses penyadaran kepada individu-individu seperti yang disebutkan sebelumnya.

Tabe’ kepada para calon pemimpin kota Palopo, penulis berpesan seharusnya momen seperti ini dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan bagi para calon pemimpin kota ini, bukannya malah menjadikan momen ini sebagai sarana pembodohan massal. Berbagi ide atau gagasan di momen seperti ini adalah hal yang wajib dilakukan, karena ini adalah kesempatan kalian untuk mendidik ribuan bahkan jutaan orang dan itu akan dikenang bahkan, ketika kalian telah tidak ada lagi di dunia ini.

Jika perwujudan masyarakat beradab adalah tujuan kita bersama, maka sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk mewujudkan itu. Menang atau kalah itu bukanlah menjadi soal lagi, toh sejarah akan tetap mencatat bahwa kalian adalah orang-orang yang baik dan sedikit banyak kalian telah berperan penting dalam mewujudkan itu semua.

Jika A.S. Neil menyatakan “Saya lebih senang melihat sekolah menghasilkan para penyapu jalan yang bahagia, ketimbang sarjana yang sakit jiwa”, maka penulis menyatakan bahwa penulis lebih senang melihat para pemimpin mengatakan dan mengerjakan hal-hal yang mendidik agar masyarakatnya menjadi lebih baik, ketimbang mengatakan kebohongan dan mengerjakan hal-hal yang memenjarakan masyarakatnya dalam kebodohan.

Tabe’ kepada para orangtua, keluarga, sahabat, kerabat dan teman-teman yang sama-sama mencintai kota Palopo. Betapa elok kota kita ini jika dipimpin oleh pemimpin seperti itu. Sangat tidak pantas rasanya kota yang sama-sama kita cintai ini, kita relakan jatuh ke tangan-tangan yang tidak kapabel dan bertanggung jawab. Apakah kita rela kehidupan kita untuk beberapa tahun ke depan hidup dalam kebodohan? Apakah kita tega melihat orangtua, keluarga, sahabat, kerabat dan teman-teman kita hidup terpenjara dalam kebodohan dan tidak berkembang menjadi manusia yang lebih baik? Apakah kita tega melihat kota tempat kita berbagi cerita tentang cinta, kasih, air mata baik dalam keadaan suka ataupun duka, dll, itu dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab? Ini adalah waktu yang tepat bagi kita semua untuk menentukan kehidupan kita, agar kita menjadi manusia-manusia yang berkualitas unggul dan baik, sehingga kita semua, bahkan sampai ke kehidupan anak cucu kita nantinya dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, ketika ada calon pemimpin yang berkampanye siapa pun dia, maka datang dan cermatilah gagasan apa yang mereka tawarkan. Saya meyakini masyarakat kota Palopo sangat cerdas dalam hal menentukan pilihannya, karena telah banyak belajar dari pengalaman sebelumnya. Apakah tidak lebih baik kita menentukan pilihan karena didasari oleh hal-hal yang baik dan benar (beradab) daripada didasari oleh kecurangan (melanggar aturan) dan hal-hal yang tidak mendidik?

Penulis bukan bermaksud menggurui para orangtua, keluarga, sahabat, kerabat dan teman-teman semua, tapi ini adalah setetes ide atau gagasan yang ingin penulis bagikan dari luasnya lautan ilmu pengetahuan. Penulis meyakini beberapa dari kita memiliki ide yang berbeda, maka penulis meminta agar kita tetap hidup harmonis dalam segala perbedaan tersebut karena bukan perbedaan yang harus kita pertengkarkan terus-menerus, tapi cara kita menyikapi perbedaan itu yang mesti kita perbaiki selayaknya manusia beradab.

Penulis juga menyadari bahwa tulisan ini masih sangat jauh dari kata sempurna, karena kesempurnaan itu hanyalah milikNya. Palopo, Rabu 25 Januari 2018. (*)

Komentar

Berita Terkait