oleh

OPINI: Perisai yang Hilang

Oleh: Dian Mutmainnah
* Member Wonderful Hijrah Palopo dan Mahasiswi

TAK banyak muslim yang tau tentang peristiwa penting yang terjadi di bulan Maret. Tepatnya tanggal 3 di tahun 1924. Sekitar 95 tahun yang lalu, sebuah tragedi besar yang membalik penuh tatanan hidup umat Islam.

Ini bukan tentang tsunami atau bencana alam yang menyisakan korban jiwa. Namun malapetaka dahsyat. Runtuhnya negara adidaya yang telah berusia 14 abad lamanya, Daulah Khilafah Islamiyah.

Adalah Mustafa Kemal Ataturk, seorang militer Turki dari Salonica. Sayang, pribadinya tak seindah namanya.

Begitu benci pada bangsa Arab, bukan tanpa alasan, karena memang darah yang mengalir di tubuhnya adalah Yahudi tulen. Yahudi Daunamah sebutannya. Yaitu kaum Yahudi yang berpura-pura memeluk agama Islam. Ia adalah orang yang paling bertanggungjawab atas runtuhnya Khilafah Islamiyah (islampos.com)

Yahya Cholil Staquf menyebut organisasi yang mencita-citakan khilafah, seperti Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin, tak beda dengan gerakan komunis internasional yang menghendaki rezim tunggal di dunia.

Menurutnya, gerakan yang bercita-cita tentang khilafah itu tergolong gagasan baru yang sedang dipaksakan pada dunia Islam.

“Jadi mereka sama dengan gagasan komunis internasional yang memungkinkan satu rezim komunis untuk satu dunia,” ujar pria yang akrab dipanggil Gus Yahya, di sela-sela Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU), di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2). (cnnindonesia.com)

03 Maret 1924 (1342 H) adalah awal malapetaka dunia. Hari dimana sistem kepemimpinan (Khilafah Islamiyah) dihapuskan oleh Pengkhianat Mustafa Kemal Attaturk laknatullah ‘alaih. Inilah malapetaka terbesar dunia.

Umat Islam kini tercerai-berai, lemah, kalah dan terjajah tanpanya. Dengan diruntuhkanya Khilafah berarti hancurnya sistem kepemimpinan umum umat Islam seluruh dunia (internasional) dibawah satu komando (Khalifah).

Maka perlahan-lahan ajaran Islam mulai lepas satu demi satu, umat islam tercerai berai, semuanya bergerak sesuai dengan keinginan dan hasratnya masing-masing tanpa ada kepemimpinan yang mengarahkan.

Syariat Islam banyak terabaikan, petunjuk hukum yang Allah turunkan tak mampu lagi diamalkan secara menyeluruh.

Akibatnya, ketidakberdayaan kaum muslimin dihinakan oleh para musuhnya. Penganiayaan,persekusi sampai penindasan terus menghantam mereka.

Kejahatan yang tak kalah keji dilakukan oleh penguasa langsung dengan menghabisi ormas Islam yang tidak bersalah dan tidak terbukti bersalah.

Sebut saja HTI. Ormas ini dipersekusi dan dihabisi karena kegigihannya dalam mendakwahkan dan mengajak umat pada penerapan Khilafah sebagaimana yang dijanjikan Allah yang mengikuti metode Rasul-Nya.

KetiadaanKhilafahmenyebabkan aktivitas dakwah terbatas pada individu dan kelompok. Sementara dakwah negara tidak lagi terlaksana. Serangan atas akidah umat Islam terus terjadi di berbagai penjuru dunia.

Saat menjadi minoritas, umat Islam mengalami deskriminasi sebagai buah Islamophobia. Sementara saat jadi mayoritas, umat pun terbatasi menerapkan Islam secara kaffah, karena sistem kufur diterapkan atas negeri mereka.

Ketiadaan Khilafah menyebabkan umat dipimpin oleh para penguasa yang berpaham sekuler.

Lebih parah lagi, simbol Islam dipertontonkan saat masa pemilihan, namun enggan menerapkan syariat kaffah saat mahkota kuasa telah disematkan.

Memang tidak banyak yang tahu mengenai hal ini, sehingga umat mudah sekali terprovokasi.

Khilafah adalah sistem kepemimpinan yang menjamin penerapan hukum Islam. Seorang khalifah dibaiat untuk menjalankan kepemimpinan berdasarkan syariat Islam. Khilafah adalah jaminan terwujudnya Islam Rahmatan Lil’Alamin (Islam rahmat bagi seuruh alam).

Hal itu dikarenakan dakwah dan jihad adalah bagian dari kebijakan politik luar negeri daulah Islam yang telah dicontohkan pula oleh baginda Rasulullah SAW.

Setelah hijrah beliau ke Madinah dan tegaknya daulah Islam, Rasulullah sebagai pemimpin umat Islam segera menstabilkan urusan dalam negeri serta megirimkan berbagai ekspedisi ke luar Madinah. Jadi, Khilafah ajaran Islam bukan ajaran sesat. Rasulullah SAW bersabda:

“Ditengah-tengah kalian ada masa kenabian, atas izin Allah masa itu akan tetap ada. Kemudian akan ada masa Khilafah sesuai dengan metode kenabian, jika Allah berkehendak masa itu akan tetap ada, lalu jika Allah berkehendak menghapusnya, atas izin Allah masa itu akan tiada. Kemudian akan ada masa raja yang dzalim, atas izin Allah masa itu akan tetap ada, lalu jika Allah ingin menghapusnya, atas izin Allah maka masi itu akan tiada. Kemuadian akan ada masa raja yang menggigit, atas izin Allah masa itu akan tetap ada, lalu jika Allah berkehendak menghapusnya, masa itu akan tiada. Kemudian akan ada lagi Khilafah sesuai dengan metode kenabian.” (HR. Imam Ahmad).

Sebagai seorang Muslim wajib hukumnya mengimani bisyarah Rasulullah. Kewajiban mendakwahkan khilafah bukanlah penyimpangan, bahkan wajib bagi umat Islam untuk memastikan sistem ini terwujud di bumi yang Allah ciptakan. Khilafah adalah suatu keniscayaan.

Sekuat apapun musuh menghalangi kelahiranya hanya akan berakhir sia-sia karena Khilafah adalah ajaran Islam. Wallahu a’lam bish-shawab. (*)

* Opini ini diterbitkan atas kerjasama Komunitas Wonderful Hijrah Palopo dengan Tekape.co. Isi di luar tanggungjawab redaksi.

Komentar

Berita Terkait