oleh

Liburan ke Macau Hambur-hamburkan Uang

Penulis

Hasan Sofyan

OPINI, TEKAPE.co – Judul tulisan diatas, mungkin akan dinilai dan terlihat sangat provokatif dan tendensius. Akhir-akhir ini cukup ramai masyarakat Kota Palopo memperbincangkan video virall yang mempertontonkan sekelompok ibu-ibu pejabat dan pengusaha yang lagi menikmati perjalanannya di Macau China.

Video yang disuguhkan pada dasarnya biasa-biasa saja, layaknya sekelompok orang yang lagi menikmati perjalanan, namun yang menjadi soal adalah content pesan yang disampaikan oleh pembuat Video yang sesumbar ingin menghambur-hamburkan uang di meja judi.

Coretan sederhana ini hanya mencoba membaca narasi dibalik pembuatan video tersebut, usaha pembacaan saya tentu sangat subjektif karena hanya didasarkan pada pengamatan sepintas tanpa riset yang mendalam, akan tetapi pengamatan saya tetap berusaha menempatkan peristiwa pada konteks obyektif dengan pembacaan kaidah ilmiah agar timbangan bobot obyektifnya lebih berat dibanding subyektifitas peribadi saya.

Salah satu parameter absah yang tepat untuk membaca video virall tersebut adalah teori publik etik atau etika publik. Ada batas yang sangat tipis dab pencampuran kepentingan antara profesi dan jabatan seorang pejabat publik dengan kepentingan pribadi para pengusaha kontraktor.

Seorang pejabat publik sering abai terhadap etika jabatan yang disandangnya, akhirnya lebih terlihat mementingkan urusan pribadinya sebagai seorang pejabat dibanding mengedepankan urusan publik atau kepentingan rakyatnya.

Ruang pembatas yang sangat tipis tersebut, antara kepentingan publik dan kepentingan pribadi, terlampau sering dilanggar seorang pejabat yang akhirnya terjerumus pada wilayah kepentingan pribadi dan mementingkan kepentingan pribadinya, akibatnya korupsi menjangkiti organ terdalam pemerintahan.

Salah satu metode loby primitif yang dipakai para borjuasi di zaman orde baru, dengan memanfaatkan orang terdekat penguasa untuk melancarkan kepentingan bisnisnya. Pendekatan kepada anak dan istri penguasa menjadi pintu masuk bagi para pengusaha untuk mendapatkan kontrak milayaran dari para penguasa.

Video virall “Hambur-hamburkan duit”, yang didalamnya terlihat para pengusaha dan istri-istri pejabat (Kepala-kepala Dinas Pemerintahan Kota Palopo), yang menikmati liburan bersama di kota judi Macau China, bisa dikatakan sebagai perjalanan sesat yang akan menodai kepentingan publik karena terlihat berindikasi gratifikasi pengusaha kepada pejabat publik, artinya dugaan korupsi terlalu menyengat untuk tidak tercium.

Akhirnya kepentingan bisnis para kontraktor dan pengusaha konsultan dan perencana serta pengawasan proyek, akan sangat mudah terlihat di setiap Dinas atau SKPD. Akhirnya publik bisa menilai dan melihat, bahwa kepentingan bisnis para kontraktor bisa saja dititip disetiap SKPD melalui para istri-istri pejabat tersebut, dan perjalanan liburan ke Macau China hanya treatment para pengusaha untuk memuluskan kepentingan bisnisnya didalam organ pemerintahan.

Inilah yang menjadi penyakit kronis yang menjangkiti pemerintahan Indonesia sejak Orde baru sampai era reformasi, perselingkuhan mesra antara para penguasa dan pengusaha yang melahirkan mega korupsi.

Video virall hambur-hamburkan duit, hanya pintu masuk bagi para penegak hukum untuk menelusuri jejaring bisnis yang tidak sehat yang berindikasi KKN (Korupsi Kolusi dan Nepotisme) yang menjangkiti pemerintahan Judas Amir.

Sudah saatnya pemerintahan Judas Amir dan Achmad Syarifuddin Daud (Ome) ketat menerapkan Etika Jabatan di internal pemerintahan agar timbangan bobot kepentingan rakyat lebih maksimal diperjuangkan sehingga kepentingan pribadi yang memperkaya diri sendiri sejak dini bisa diminimalisir. (*)

Berita Terkait