oleh

Ketika Anak Cakka Jadi Ajudan

Penulis : Muhammad Nursaleh

TEKAPE.co – Adalah hal langka menyaksikan anak pejabat yang rela menjadi ajudan mendampingi bapaknya menunaikan tugas negara. Tak gengsi, semata abdi. Dan adalah bukan hal langka pula, menyaksikan anak pejabat manja, jaga gengsi, tumbuh dan berlindung di balik ketiak kekuasaan bapaknya.

Tujuh belas Agustus dua ribu tujuh belas. Pagi, jarum jam baru menunjuk angka 08.15 WITA. Putra Bupati Luwu, Andi Ahfad Mudzakkar berkali-kali mondar-mandir di ruang tengah rumah jabatan bapaknya. Sesekali membetulkan letak dasinya, di antara kerah putih bajunya yang padu padan dengan warna celana dan sepatunya, putih.

Hari ini adalah sejarah bagi Ahfad. Pertama kalinya alumni IPDN ini akan tampil sebagai ajudan bagi bapaknya sendiri, Andi Mudzakkar pada peringatan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI ke-72. Didaulat sebagai ajudan, Ahfad tak menunjukkan raut wajah tegang. Tak ada gelisah, risih apalagi rasa takut.

Bertindak sebagai ajudan apalagi mengajudani bapaknya, bukanlah sesuatu yang mudah. Sejenak ia harus menanggalkan hubungan sebagai anak. Melepaskan semua rasa kedekatan. Ia murni tampil sebagai aparatur sipil negara, yang siap mengemban amanah ditugasi sebagai ajudan. Apalagi ajudan pada upacara besar hari kemerdekaan.

“Siap. Insyaallah tugas ini saya laksanakan,” singkat ahfad menjawab kala ditanya kesiapannya.

Waktu yang ditunggu pun akhirnya tiba. Plat DP 1 F tiba di tribun lapangan Andi Djemma, Belopa, lokasi upacara. Ahfad berjalan pas di belakang bapaknya. Bapaknya Menyalami satu persatu tamu undangan, sementara dirinya tetap setia mendampingi bapaknya sambil tersenyum. Sejenak ia duduk di barisan kedua tamu undangan hingga akhirnya tampil berdiri di belakang bapaknya yang bertindak sebagai inspektur upacara.

Sebagai alumni IPDN, Ahfad benar-benar tahu tata cara baris-berbaris. Tak sedikit pun anggota badannya bergoyang. Ia tegak berdiri, menatap lurus ke depan, dadanya membusung, ia hikmad mengikuti jalannya upacara.

Tak banyak yang tahu bahwa yang menjadi ajudan adalah putra ke-dua Andi Mudzakkar. Tamu undangan bahkan ada yang merasa kaget setelah mengetahuinya. Terlebih bagi mereka yang masih asing dengan wajah Ahfad.

Memang sejak bapaknya jadi Bupati Luwu, Ahfad tidak tumbuh seperti anak pejabat lainnya. Sudah bukan rahasia lagi, banyak anak pejabat tumbuh manja dengan fasilitas dan bahkan turut jadi penguasa atas kekuasaan bapaknya.

Semasa kuliah di IPDN, Ahfad hanya memakai mobil Avansa yang sudah berumur. Kini mobil itu masih dan masih sering ia pakai meskipun sudah dibranding kopi bisang.

“Yang penting kan fungsinya. Itu saja. Soal brandingnya, kan sekaligus sosialisasi kopi juga. Saya kalau di rujab, seperti biasa. Bergaul dengan siapa saja. Makan sama-sama. Satu yang dipesan opu (bapaknya) kita anaknya jangan pernah manja dengan apa yang dimiliki. Apalagi jika coba-coba bicara yang bukan urusan kita. Tetap seperti anak yang biasa-biasa saja,” kata Ahfad.

Ahfad bukan anak pejabat tak taat apalagi ‘sesat’. Ia tetap menjadi pribadi yang tahu menghargai. Tumbuh sesuai nilai-nilai yang ditanamkan bapaknya, berkembang tanpa melakukan hal-hal yang ditentang. (*)

Berita Terkait