oleh

Islam Rahmatan Lil Alamin di Jiwa To Acca Tana Luwu

OLEH : ASWAR SAPUTRA

Ketua Umum pmii Komisariat Unanda KOTA PALOPO 

TEKAPE.co — NU (nahdatul ulama), sebagai jam’iyah sekaligus bergerak diniyah islamiyah dan ijtima’iyah (keislaman dan sosial kemasyarakatan) adalah Organisasi Masyarakat Islam yang berpaham Ahlul Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja) yang ada sejak dahulu.

Sejak meninggalnya rasulullah benih-benih Aswaja sudah ada saat kepemimpinan di gantikan oleh para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in yang tetap konsisten dengan ajaran serta perbuatan yang dicontohkan oleh Rasul.

Golongan ahlu sunnah waljamaah akan terlihat manakala terdapat kelompok yang sifatnya Tawassuth (sikap tengah-tengah), tawasun (seimbang), I’tidal (tegak lurus), tasamuh (toleransi), sebab paham tersebutlah yang menjadi sebagai doktrin dalam Aswaja dan perwujudan dari Islam Rahmatan Lil Alamin.

Nahdatul ulama sebagai penganut ahlu sunnah wal jama’ah sudah ada di Indonesia sebelum masa kemerdekaan. Setelah masuknya islam di abad ke 7 dan berkembang di abad ke 13 yang disebarkan oleh wali songo. Termasuk di Sulawesi selatan pada tahun 1930 Organisasi Rabitatul Ulama (RU) yang di dirikan oleh K.H.Ahmad Bone, suatu organisasi yang sejalan dengan Nahdatul Ulama.

Kemudian atas restu K.H.Hasyim Asy’ari organisasi rabitatul ulama di sepakatinya menjadi Nahdatul ulama. Dan KH ahmad bone di tunjuk menjadi ketua NU di Sulawesi selatan pada saat itu. K.H. Ahmad Bone dibantu oleh Andi Mamppayuku (raja bone), melakukan Penyebarannya di daerah Bugis. Sedangkan di daerah luwu sendiri penyebarannya di dakwakan oleh K.H. Muhammad Ramli yang di bantu oleh Andi Djemma (raja luwu).

Dalam melakukan penyebaran pengamalan Islam yang Rahmatan Lil Alamin tersebut. Dilakukan melalui Organizing (peng organisasian) seperti yang dilakukan oleh mantan Raja Luwu Andi Djemma, “Sebab Melalui organisasi akan mudah mendidik dan mengajarkan tentang individu yang menjadi bagian dari kelompok masyarakat, memiliki pandangan yang sama untuk meraih tujuan bersama (Pramoedya Ananta Toer ; jejak langkah).

Pernyataan tersebut tentu hanya akan terwujud apabila terdapat keinginan dari individu untuk menciptakan rasa aman serta kepedulian dalam lingkungan dan memiliki sifat toleransi adalah pendidik yang ber-prikemanusiaan.

Nahdatul Ulama (NU) sebagai Organisasi yang bergerak keislaman dan sosial kemasyarakatan (diniyah islamiyah dan ijtima’iyah) tersebut Telah di ganderungi oleh Andi Djemma yang bergelar Raja dan To Acca (cendekiawan) Luwu terdahulu dan kini menjadi penamaan salah satu Universitas Perguruan Tinggi di Palopo.

Keinginan dari Cendekiawan islam luwu terdahulu itu sangat Relevan dengan masalah keberagamaan yang nampak pada hari ini. “masalah memperdebatkan persoalan kuasa tuhan, tentang Surga dan Neraka, Mengkafir-kafirkan, yang dilakukan dengan seolah-olah mengutuk bagaikan tuhan. “Tuhan Tidak Perlu Dibel (Gusdur).

Manakala melihat perjuangan yang dilakukan oleh To Acca luwu terdahulu sudah menjadi keharusan bagi kaum terpelajar khususnya luwu dan indonesia pada umumnya untuk menjadi generasi pelanjut seperti yang di impikan oleh Andi Djemma. Apalagi saat melihat kondisi sosial masyarakat kontemporer maka tidak ada alasan untuk tidak memperdulikan dan bersifat apatis terhadap perkembangan zaman yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dan semoga melalui pendidikan yang diterima selalu menuntun terpelajar saat ini ke jalan yang paling lurus, demi terwujudnya Negeri Darus salam, negeri yang damai dengan pelbagi keberagamaan. (*)

Berita Terkait