oleh

Dialog Kebangsaan di Palopo, HMI Didorong Bertani dan Hidupkan Tradisi Intelektual

PALOPO, TEKAPE.co – Tradisi intelektual dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) belakangan ini diakui cukup merosot. Untuk itu, pengurus dan kader di HMI diharap bisa menghidupkan kembali tradisi intelektual.

Hal itu terungkap dalam dialog kebangsaan dalam rangka ‘Semarak Milad HMI ke-72, dengan tema ‘Menuju Kemandirian HMI’ di Gedung Merdeka Convention Hall (MCH) Kota Palopo, Minggu 10 Februari 2019, malam.

Hadir dalam dialog sebagai pemateri, mantan komisioner KPU Palopo Samsul Alam, Guru Besar Fakultas Hukum UMI Makassar Prof Dr H Lauddin Marsuni SH MH, dan dari Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Bahtiar Manajeng.

Bahtiar Manajeng, dalam pemaparannya menawarkan solusi di sisi kemandirian ekonomi, sesuai tema yang diusung, kemandirian HMI.

Ia menyarankan agar HMI saat ini bukan hanya tinggal di kampus, namun sudah saatnya turun ke masyarakat dan menanam jagung. Sebab menurutnya, jagung merupakan tanaman yang tak terlalu repot diurus, tapi punya potensi besar dalam hal pendapatan.

“Saya adalah petani jagung dan sekaligus pengusaha, maka saya menawarkan agar HMI bertani. Bisa mengelola 10 hektar kebun untuk ditanami jagung, dalam jangka waktu 4 bulan, bisa menghasilkan hingga Rp400 juta,” tandasnya.

Ia juga mengatakan, dirinya miris melihat jika ada kader HMI, selesai di kampus, lalu tinggal menunggu jadi PNS. Padahal menurutnya, ada peluang lebih besar dari jadi PNS, yakni berwirausaha atau turun bertani.

“Mindset bertani adalah miskin dan kotor, bagi kader HMI itu seharusnya sudah diubah,” ujarnya.

Sementara itu, Prof Lauddin Marsuni, berpesan agar kader HMI membiasakan membaca, menulis, lalu mendiskusikan. Sehingga citra kader HMI itu cerdas di luar dan di dalam kampus benar-benar terwujud.

Pemateri lainnya, Samsul Alam, mengungkapkan, dirinya tak pernah ragu dengan kemandirian HMI. Sebab HMI adalah satu-satunya organisasi kemahasiswaan besar yang lahir bukan dari Ormas atau kelompok tertentu. Tak ada afiliasi politik dengan parpol atau kelompok tertentu.

Ia juga menyarankan agar di HMI berupaya untuk terus menghidupkan tradisi intelektual. Sebab selama ini, dirinya melihat tradisi intelektual itu sudah tak ditemukan.

“Kader HMI itu harus jadi lokomotif peradaban di lingkungan masing-masing. Makanya, kita harus menghidupkan tradisi intelektual dalam aktivitas di HMI. Sebab itulah yang menjadi modal dasar dalam menciptakan peradaban di lingkungan masing-masing,” sarannya.

Ketua KAHMI Palopo, Baharman Supri, dalam sambutannya, menyampaikan, kader HMI harus kritis terhadap lingkungan sekitar. Seperti kritis terhadap apapun yang tidak sesuai dengan aturan dan norma yang ada. (rin)

Komentar

Berita Terkait